Monday, November 10, 2014
On 7:18 AM by LPM Mercusuar UNAIR in opini No comments
Mahasiswa adalah intelektual muda dengan ide-ide
baru yang masih segar, juga pemikir baru dengan idealisme yang masih dijunjung
tinggi. Itulah mengapa mahasiswa disebut sebagai agent of change, agen perubahan. Berdiri diluar sebuah sistem
pemerintahan dan masyarakat, pemikiran-pemikiran yang kritis mulai lahir dan
menggerakkan masyarakat menuju arah yang dirasa lebih baik, serta melakukan
kontrol terhadap pemerintahan. Aktivis mahasiswa yang tidak hanya duduk diam di
dalam kelas dan belajar, namun menaruh perhatian pada kehidupan disekitarnya.
Dari tahun ke tahun, generasi ini tumbuh menjadi generasi yang acuh dan egois.
Mengesampingkan tanggung jawab sosialnya untuk mengejar nilai di atas kertas.
Mahasiswa kemudian menjadi jauh dengan rakyat, tempatnya berasal. Asing satu
sama lain. “Mahasiswa bukan bagian dari kami.”
Ada segelintir kecil mahasiswa yang masih peka dan
peduli dengan permasalahan-permasalahan disekitarnya. Mereka berdiri di depan
gedung-gedung pemerintahan, menyuarakan protes dan pemikirannya dengan toa agar
mampu didengar. Mereka masih ada, orator-orator
yang berani itu masih ada di depan mata. Yang menjadi sangat langka
adalah pemikir yang lebih berani dari orator. penulis yang menelurkan
pemikirannya menjadi tulisan, yakni penggerak yang langsung menembus kepala
orang-orang dengan gagasan dan pemikirannya. Suara hanya mampu terdengar saat
itu, namun tulisan ‘abadi’. Soe Hok Gie menjadi dikenal banyak mahasiswa bahkan
bertahun-tahun setelah kematiannya. Ini karena dia menuliskan pemikirannya.
Tulisannya mampu membawa orang-orang menyelami pemikirannya, untuk itu Soe Hok
Gie masih hidup hingga saat ini. Namanya masih disebut-sebut dalam
diskusi-diskusi mahasiswa, bahkan dalam forum lintas disiplin ilmu. Dan kepada
generasi ini, dimana menulis tidak lagi menjadi budaya, apakah generasi
intelektual ini akan menua bersama umur dan mati bersama jasadnya?
Sebagai generasi televisi dan berbagai macam sosial
media, generasi ini dimanjakan oleh perkembangan teknologi, dibuai oleh
informasi yang terus datang dari segala arah, kita diuji dengan kemalasan,
begitupun yang menjangkiti mahasiswa saat ini. Kondisi inilah yang menjadi nazak intelektualitas, dimana sebuah generasi
begitu dekat dengan kematian budaya menulis, membaca, dan berdiskusi. Hal ini
dapat dilihat dari keaktifan pers kampus dan fakultas, salah satu cerminan dari
pemikiran-pemikiran kritis mahasiswa. Juga perpustakaan yang mulai sepi, atau
bahkan ramai namun bukan pada fungsi utamanya, melainkan sebagai tempat nyangkruk dan istirahat saat jeda kelas,
atau bahkan sarana berburu wifi dan
‘amunisi’ gadget. Jika virus ini
terus menjangkiti mahasiswa, kita tidak akan meninggalkan apa-apa pada generasi
selanjutnya, tidak akan dikenang atau bahkan dikenal. Dan pada saat yang
bersamaan, mereka akan bertanya apakah generasi kita pernah ada? Ahalla Tsauro,
Wakil Divisi Redaksi LPM Mercusuar, saat memberi materi peliputan berita dalam
acara Upgrading berkata, “Kalau
Descartes berkata je pense donc je suis, yang artinya aku berpikir maka aku
ada, sekarang ganti je vous écris donc je suis, aku menulis maka aku ada.”
Semoga dengan ini, budaya menulis, membaca, dan
berdiskusi dalam mahasiswa akan hidup kembali. Menciptakan generasi mahasiswa
dimana buku, e-book, dan jurnal menjadi konsumsi rutin. Generasi mahasiswa dimana
pers mahasiswa hidup dan aktiv untuk terus menghasilkan buletin dan majalah
yang kritis. Generasi mahasiswa dimana pemikiran-pemikiran mahasiswa mengisi
kolom-kolom opini buletin nasional. Generasi mahasiswa dimana sosial media merupakan
sarana untuk bertukar gagasan dan pikiran-pikiran kritis. Hanya dengan itu ide
dapat memiliki kaki, berjalan-jalan dipikiran pembaca, dan menembak ratusan
bahkan ribuan kepala. Hanya dengan itu generasi ini akan ‘abadi’, tidak lantas
mati bersama jasadnya.
(Ditulis
Oleh, Chusnul Chotimmah, Mahasiswi Ilmu Politik Universitas Airlangga dan Sekretaris
Umum LPM Mercusuar Universitas Airlangga)
On 7:03 AM by LPM Mercusuar UNAIR in opini No comments
Hari Pahlawan diperingati pada
tanggal 10 Nopember tiap tahunnya. Pada hari itu di pusat kota Pahlawan acara
seremonial makin menggema. Tiap tahun semakin banyak acara meriah yang
diperingati. Parade juang, upacara, kewajiban mengibarkan bendera merah putih,
aksi-aksi teatrikal dari berbagai komunitas, mengunjungi makam pahlawan,
dsb. Namun yang menjadi masalah klasik
tiap tahunnya tetaplah sama. Apakah 10 Nopember hanyalah aksi seremonial belaka
ataukah sebuah peringatan bagi kita untuk kembali berjuang sesuai dengan
nilai-nilai kepahlawanan ?
Nilai-nilai kepahlawanan
Rela berkorban demi bangsa dan
negara merupakan hal yang paling esensial ketika merujuk kata pahlawan. Pejuang
dulu banyak yang berkorban secara fisik. Mereka rela mempertaruhkan nyawa di medan
perang untuk mencapai keinginan bersama berupa kemerdekaan. Kepentingan negara
seringkali didahulukan daripada kepetingan keluarga sekalipun. Mereka rela
melakukan apapun demi membela negara Indonesia tercinta. Selain dalam bentuk
fisik pengorbanan juga dilakukan dalam bentuk pemikiran. Pemimpin dan
"arsitek" pembentukan negara seperti Ir. Soekarno, Muh.Yamin, M.
Hatta, Tan Malaka adalah segelintir pemikir-pemikir era perjuangan. Sama
pentingnya seperti peperangan dalam bentuk fisik. Karya dan tulisan yang mereka
buat telah membangkitkan semangat rakyat Indonesia dan juga mendidik bangsa
akan pentingnya kemerdekaan.
Mereka yang disebut pahlawan
dahulu juga mempunyai sifat berani untuk menentang penjajahan, menentang
sekutu, walau hanya dengan modal senjata secukupnya. Sebilah bambu maupun
dengan tangan kosong tak menghalangi para pejuang untuk tetap berperang membela
tanah air. Rasa dan keinginan untuk merdeka, untuk kebaikan bangsa jauh
mengalahkan rasa takut terhadap musuh yang mempunyai persenjataan lebih
lengkap. Lalu, rasa ikhlas juga menjadi pelengkap nilai-nilai kepahlawanan.
Ikhlas berarti secara tulus memberi pertolongan kepada sesama, merelakan
sebagian yang dimiliki, serta jujur dalam perkataan dan perbuatan. Tanpa rasa
ikhlas tanpa pamrih tentu saja pahlawan tak akan mampu untuk berperang. Rasa
ikhlas menumbuhkan rasa semangat rela berkorban, berani menentang musuh,
melawan penjajah sehingga cita-cita bersama dapat tercapai yaitu kemerdekaan.
Kepahlawanan Kini
Pertanyaan yang mengemuka saat
ini adalah apakah nilai-nilai kepahlawanan itu masih ada ? Ketika kita melihat
media televisi maupun online
pemberitaan utama adalah seputar kasus korupsi, kisruh DPR, perebutan
kekuasaan, kejahatan, pencurian, dan berbagai pemberitaan negatif lainnya.
Beberapa orang coba untuk berkuasa di wilayahnya sendiri, ataupun di pusat
dengan cara-cara yang tidak dihalalkan. Suap menyuap sering terjadi di seluruh
sistem pemerintahan. Seolah menjadi hal yang lumrah, suap terjadi mulai dari
kepolisian, pemerintah daerah, pusat, kementerian, dan lembaga-lembaga
pemerintah lain. Pelakunya tidak hanya elit pemerintah, bahkan masyarakat biasa
pun melakukannya. Semisal memperoleh SIM lewat "jalan belakang"
dengan membayar lebih kepada oknum terentu. Hal ini tentu saja tidak
mencerminkan nilai-nilai kepahlawanan.Dimana rasa rela berkorban? Rasa ikhlas?
Berani untuk membela kebenaran ? Apakah semua orang menjadi negatif seperti itu
?
Namun, penulis disini memiliki
kepercayaan bahwa tidak semua orang seperti itu. Masih banyak pribadi yang
memang menjadikan hidupnya menjadi lebih bermanfaat bagi orang lain. Dunia ini
pasti juga diisi dengan orang-orang baik. Masih banyak rakyat yang rela
berkorban, iklhas, berani untuk membela kebenaran, serta mengharumkan nama
bangsa di kancah internasional. Sudah sering kita dengar capaian anak Indonesia
yang sering berprestasi dalam olimpiade tingkat internasional. Mereka ini
adalah pahlawan-pahlawan era saat ini. Dalam lingkup yang lebih kecil juga ada komunitas-komunitas
yang mempunyai kepedulian terhadap sesama. Memberi makan kepada penduduk miskin
secara sukarela, memberi pendidikan gratis kepada anak jalanan merupakan
beberapa contoh nyata yang dapat dilakukan komunitas tersebut untuk memajukan
bangsa. Ketika kepahlawanan belum bisa dilakukan secara langsung dalam level
negara, nilai-nilai kepahlawanan tersebut dapat dimulai dari hal terkecil yang
ada di lingkungan sekitar.
Aktualisasi Diri
Kemudian apa yang dapat kita
lakukan ? Ketika zaman telah berubah, kita tidak harus lagi berperang secara
fisik. Menginjak milenium kedua (2000an keatas) perjuangan yang dilakukan
tidaklah sama dengan zaman Perang Dunia II. Dulu perjuangan utama kebanyakan
negara adalah untuk meraih kemerdekaan. Banyak negara saat itu masih
terbelenggu dalam penjajahan kolonial, termasuk Indonesia. Kini ketika zaman
telah berubah, bentuk perjuangan telah berganti. Tidak lagi perjuangan untuk
menjadi bangsa merdeka tetapi perjuangan untuk memajukan bangsa. Pahlawan
kemudian tidak terpaku pada orang-orang yang berjuang demi kemerdekaan tetapi
meluas kepada mereka-mereka yang berusaha untuk memajukan bangsa.
Oleh karena itu untuk
berkontribusi kepada bangsa dan menjadi "pahlawan" tugas kita secara
individu tidak lain adalah untuk ikut memajukan bangsa. Caranya adalah dengan
pendidikan. Pendidikan tidak harus dalam bentuk formal, berbagai pendidikan
informal juga semakin penting dilakukan. Mereka yang pandai menulis ikut
memajukan bangsa melalui tulisannya, mereka yang pandai bermusik ikut
mengharumkan negara dengan lagu-lagunya. Mereka yang cerdas secara akademis,
dapat menjadi pahlawan negara ketika mendapat prestasi internasional. Mereka
yang mempunyai kepedulian terhadap lingkungan dapat memberi penyuluhan
pentingnya lingkungan kepada masyarakat banyak, dan masih banyak lagi. Melalui
hal-hal kecil yang kita minati dan sukai kita dapat menyumbang sesautu untuk
kemajuan bangsa. Dengan cara- cara kita sendiri, dengan hal-hal yang kita sukai
selama itu positif, sesuai dengan nilai-nilai kepahlawanan dan dapat berguna
untuk bangsa maka secara tidak langsung kita telah menyumbang sesuatu untuk
kemajuan bangsa.
Selamat Hari Pahlawan ...
*Rizka Perdana Putra, anggota LPM
Mercusuar
Thursday, October 23, 2014
(Kampus C) LPM Mercusuar Universitas Airlangga pada Kamis (23/10) siang mengadakan kunjungan dalam rangka silaturahmi ke Rektorat Universitas Airlangga dan BEM Universitas Airlangga. Beranggotakan 3 orang, Ahalla Tsauro, Ahmad Fahri dan Magita N.S, tim Mercusuar menemui langsung Direktur Kemahasiswaan Universitas Airlangga, Bapak Eko Supeno. Kunjungan ini dimaksudkan sebagai salah satu peran LPM Mercusuar Unair untuk membangun relasi dengan pihak birokrat kampus. Selepas perkenalan diri, LPM Mercusuar Unair menjelaskan aktivitas-aktivitas yang telah dilakukan dan dijalankan selama ini. Sebagai organisasi jurnalistik, selayaknya tradisi seperti diskusi dan menulis merupakan sebuah keniscyaaan. Diskusi yang sifatnya internal organisasi dan diskusi mengundang publik (civitas academica). Ahalla Tsauro, yang juga menjabat sebagai Wakil Pimpinan Redaksi di LPM Mercusuar Unair, menjelaskan progresivitas kegiatan organisasi secara kontinyu dan rutin meski dengan penuh keterbatasan. Salah satu aktivitas yang terlihat adalah Diskusi Publik, dan Riset yang dikawal oleh Litbang LPM Mercusuar Unair dengan mengambil sub-tema parkiran.
Dirmawa
Unair, Bapak Eko Supeno, dalam pandanganya, beliau berpendapat bahwa kenyataan
bahwa mahasiswa Unair yang “membludak” tidak bisa dihindari sebagai tuntuntan
akademik dan permintaan masyarakat. “Banyak orang tua yang mencita-citakan
anak-anaknya untuk bisa kuliah disini (UNAIR,red),
betapa beruntungnya kalian bisa menjadi salah satu bagian dari kampus ini,
mana mungkin kita membatasi sekian banyak permintaan untuk masuk Unair?”.
Pendapat beliau ditujukan untuk memaparkan problematika parkiran sebagai salah
satu momok dari mahasiswa, dan keniscayaan rasio antara mahasiswa masuk dan
keluar yang timpang. “tetapi kita kan sudah mengupayakan agar masalah ini
(parkiran,red) bisa diatasi, sekarang kita sudah buka lahan di belakang FISIP
atau Syariah Tower sebagai area
parkir “.
Juga
LPM Mercusuar memaparkan progress dalam bentuk produk jurnalistik, yakni
beberapa eksemplar buletin edisi Oktober. Magita, mahasiswa Fakultas
Keperawatan, yang juga staf Humas LPM Mercusuar juga menjelaskan bahwa sebagai
organisasi yang sedang dalam tahap internalisasi, LPM Mercusuar harus
berhadapan pada luasnya wilayah kerja, yakni satu Universitas. Sekaligus dalam
masa “merintis” setelah beberapa tahun mengalami kekosongan, maka membangun
kembali organisasi menjadi tantangan terbesar bagi LPM Mercusuar Unair. Pada
sesi sharing tersebut, Bapak Eko
Supeno memberi banyak masukan mengenai idealita dari organisasi pers mahasiswa,
dalam segi penggarapan teknis berita sampai manajemen organisasi. Hal tersebut
sejalan dengan pendapat yang diutarakan oleh Tim Mercusuar.
Kunjungan
kedua yakni menuju Sekretariat BEM UNAIR yang persis bertempat di belakang
gedung Rektorat Unair. Kondisi Sekretariat yang relatif lebih sepi, tim
Mercusuar disambut oleh Presiden BEM UNAIR, Bintang Gumilang dan Menteri Pemberdayaan Perempuan BEM UNAIR,
Priesta Desianti (FISIP 2011) dan terlihat aktivitas dari beberapa kementerian.
Dalam diskusi dengan Presbem, Tim Mercusuar memaparkan aktivitas-aktivitas yang
sudah berlangsung, sedang berlangsung dan yang sedang disiapkan untuk
dilaksanakan dalam waktu dekat. Ada beberapa informasi yang disampaikan oleh
mas Bintang (Presbem) saat itu, yaitu tentang pembangunan secara bertahap UNAIR
Banyuwangi yang sedang dalam tahap merintis pasca peresmianya pada Minggu
(19/10) kemarin. Termasuk pengelolaan administrasi dan sistem yang otomatis
menjadi lebih luas dan menjadi konsekuensi dari perluasan dan bentuk dedikasi yang
lebih nyata kampus Unair untuk Jawa Timur, terutama masyarakat Banyuwangi.
Agenda BEM UNAIR juga termasuk membantu mahasiswa di kampus Banyuwangi dalam
skala aktivitas organisasi dan membangun sistem organisasi di sana. “Kita (BEM
Unair.red) sedang berupaya dan merintis organisasi-organisasi baru disana,
bahkan sedang juga disiapkan komunitas-komunitas olahraga dan minat bakat, yang
kelak akan jadi cikal bakal UKM, ujar mas Bintang yang juga mahasiswa FKM
Unair. Bahkan dipaparkan bahwa minimal BEM UNAIR harus mengadakan kunjungan ke
kampus Banyuwangi dengan tujuan pengawalan kegiatan mahasiswa dan pembentukan
organisasi mahasiswa disana.
Saran
langsung dari Presbem, adalah bahwa Mercusuar harus juga menyorot isu yang
lebih luas, salah satunya perkembangan Unair Banyuwangi, yang meski dalam
pendirian dan peresmianya mendapat banyak apresiasi, akan tetapi bukan berarti
nantinya tanpa masalah, ujar mas Bintang. Ahmad Fahri, selaku ketua LPM
Mercusuar Unair, juga menyampaikan bahwa dalam waktu dekat LPM Mercusuar akan
dijanjikan kiriman rutin Koran Kompas langsung oleh Kantor Kompas Gramedia Jawa
Timur, yang pasalnya alamat pengiriman akan ditujukan di Sekretariat BEM UNAIR
dalam waktu dekat. Doakan agar segera terealisasi. (ahl/fhr/mgt).
Saturday, October 18, 2014
On 6:30 AM by LPM Mercusuar UNAIR in 2014-2015, Info, Struktur Kepengurusan LPM Mercusuar Universitas Airlangga, Struktur LPM Mercusuar, UNAIR No comments
Struktur Kepengurusan LPM Mercusuar Universitas Airlangga 2014-2015
Ketua Umum : Ahmad Fahri Huseinsyah (FISIP 2011)
Wakil Ketua Umum : Aufal Fresky (FEB 2011)
Sekretaris I : Chusnul Chotimah (FISIP 2011)
Sekretaris II : Siti Mahmudah (FIB 2012)
Bendahara : Sherlina (FEB 2012)
Pimpinan Redaksi : Rizka Perdana Putra (FISIP 2011)
Wakil Pimred : Ahalla Tsauro (FISIP 2012)
Kadiv Litbang : Rizki Ridha Damayanti (FH 2011)
Wakil Kadiv Litbang : Okky Wisnu Widodo ( FIB 2011)
Kadiv Artistik& Fotografi : Prisca Cindy (FISIP 2011)
Kadiv Perusahaan : Rediana R Damayanti (FKH 2012)
Kadiv Humas : Izza Hadi Pradana (FKp 2011)
On 4:30 AM by LPM Mercusuar UNAIR in opini No comments
Mantan Jenderal perang sekaligus pemimpin besar Perancis Napoleon Bonaparte berkata “seorang pemimpin adalah penyedia harapan”, arti dari pernyataan sang jenderal tersebut adalah seorang manusia belum dikatakan pemimpin sejati jika belum bisa menyediakan harapan seluruh rakyatnya. Harapan di sini mempunyai arti bahwa semua mimpi-mimpi rakyat yang akan direalisasikan di masa kepemimpinannya, seperti peningkatan kesejahteraan sosial, pertumbuhan ekonomi dengan distribusi pendapatan yang merata, Penegakan keadilan sesuai dengan Undang-Undang yang berlaku dan sebagainya. Jika kita lihat sejenak, impian tersebut seakan-akan masih bersifat abstrak dan masih belum jelas bagaimana langkah-langkah nyata yang akan dilakukan sang pemimpin dalam merealisasikan harapan rakyat tersebut. Perlu langkah serta program kongkret untuk mewujudkan itu semua.
Indonesia merupakan negara besar dengan tingkat kepadatan penduduk yang sangat tinggi ditambah karakteristik masyarakatnya yang berbeda beda, dengan begitu ada celah untuk terjadinya masalah di negri ini, entah itu masalah disintergrasi masyarakat, struktur ekonomi yang tidak adil, pemerintahan yang korup, penurunan kualitas pendidikan dan semacamnya. Jika kita telusuri lebih dalam, faktor wilayah dan kepadatan penduduk bukan merupakan satu-satunya penyebab dari masalah-masalah tersebut. Banyak variabel yang menyebabkan masalah tersebut terjadi, salah satu faktor yang paling berpengaruh adalah krisis kepemimpinan. Indonesia menganut paham demokrasi yaitu kedaulatan tertinggi berada di tangan rakyat, implikasinya adalah untuk mendapatkan seorang pemipin terutama pemimpin negara dan pemimpin pemerintahan maka perlu pemungutan suara. Sudah selayaknya kepercayaan yang diberikan rakyat melalui kedaulatannya dimanfaatkan sebaik mungkin unuk mengemban amanahnya. Seorang pemimpin tidak hanya dituntut untuk mempunyai kercerdasan intelektual yang tinggi, lebih dari itu wajib mempunyai komitmen serta integritas dalam menjalankan fungsi dan tugasnya.
Satu hal penting yang harus dimiliki oleh setiap pemimpin bangsa yaitu visi yang jelas. Artinya setiap langkah-langkahnya dalam menjalankan program kerja dan menetapkan kebijakan harus mempunyai arah serta tujuan yang jelas, sehingga dengan begitu sang pemimpin tidak hanya berfikir dalam jangka pendek namun melangkah jauh ke depan. Pemimpin yang visioner merupakan salah satu pemimpin idaman rakyat, tidak ada ada rakyat yang mau dipimpin oleh orang yang tidak mempunyai tujuan yang jelas dalam hidupnya. Visi dari seorang pemimpin haruslah disertai dengan nilai-nilai yang luhur, seperti kejujuran, tanggung jawab dan sebagainya. Visi hanya sekadar angan-angan tanpa adanya kemauan dan kehendak yang kuat untuk merealisasikan visi tersebut. Salah satu contoh seorang pemimpin mempunyai visi untuk meningkatkan kualitas pendidikan nasional, maka langkah kongkritnya dia harus mempunyai konsep serta perencanaan dalam menerapkan strategi untuk mewujudkan itu, misalnya membuat grind design sitem pendidikan nasional, membuat konsep pengembangan siswa dengan teknologi, membuat rancangan UU pendidikan nasional yang berorientasi pada peningkatan mutu siswa, meningkatkan anggaran untuk pendidikan, membuat konsep tentang pengembangan kualitas tenaga pengajar di setiap sekolah tanah air dan sebagainya.
Setelah melakukan perencanaan yang matang maka langkah selanjutnya adalah bagaimana mengeksekusi rencana tersebut melalui berbagai macam kebijakan yang dikeluarkan, setelah itu sang pemimpin melakukan kontrol serta pengawasan terhadap pelaksana kebijakan, agar kebijakan tersebut berjalan sesuai dengan apa yang diharapkan. Setelah itu sang Pemimpin mempunyai tanggung jawab untuk mengevaluasi segala bentuk kebijakannya tersebut. Apakah sudah terlaksana sesuai dengan yang kehendak rakyat yang telah direncanakan sebelumnya atau menyimpang dari itu semua. Dari sini bisa dlihat visi pemimpin dalam sebuah perencanaan untuk merancang kerangka kebijakan dan dalam aplikasinya, dibalik itu semua sang Pemimpin perlu rasional dan objektif dalam bertindak agar semua keputusan yang dibuat tidak hanya berdasarkan trial and error namun atas suatu kajian yang rasional. Pemimpin Visioner bukanlah pemimpin yang ambisius tanpa menghiraukan saran orang sekitarnya, namun dia sesosok pendengar yang tangkas dalam mengambil alternatif terbaik untuk kebijakannya.
Visi bagi seorang pemimpin tidak hanya sekedar menjadi tolak ukur, namun lebih dari itu menjadi bahan bakar bagi pemimpin untuk menggelorakan semangat kerjanya. Visi juga menjadi ruh yang menjiwai serta memberikan dorongan kuat dalam dirinya untuk terus berkarya dan melawan segala macam hambatan.
Dengan begitu pemimpin yang visioner merupakan salah satu indikator dari pemimpin yang ideal, rakyat bisa melihat kualitas mereka dari gagasan ,ide, konsep dan visi yang mereka sampaikan. Tahun politik 2014 ini diharapkan melahirkan pemimpin-pemimpin yang ideal bagi rakyatnya, sehingga dengan begitu berbagai macam masalah di bumi nusantara bisa di atasi atau diminimalisir sebaik mungkin.
Sebelum mengakhiri tulisan ini, saya mengutip pernyataan Harold S. Geeneen, CEO International Telephone and Telegraph, yang berkata “Pemimpin tidak banyak bicara, tapi kepemimpinannya ditunjukkan dalam perilaku dan tindakan nyata.”
Penulis : Muhammad Aufal Fresky (Mahasiswa Program Studi Ekonomi Pembangunan UNAIR/ Kabid P3A HmI Komisariat Ekonomi Airlangga/ Pengurus LPM Mercusuar/ Anggota LPPM Sektor/ Anggota Acses/ Pemimpin Redaksi Buletin Insan cita Hmi Komisariat Ekonomi Airlangga )
Friday, October 10, 2014
On 7:21 AM by LPM Mercusuar UNAIR in Buletin No comments
Salam Pers Mahasiswa....
Merespon permintaan dari pembaca untuk menyebarkan hasil liputan dalam bentuk elektronik, LPM mercusuar Universitas Airlangga mencoba berinovasi dengan menyebarluaskankan Buletin edisi Oktober kedalam genggaman pembaca sekalian dalam bentuk file elektronik (PDF) yang dapat di unduh di Buletin Mercusuar.pdf
Selamat Membaca..
Salam
Wednesday, October 1, 2014
On 12:55 AM by LPM Mercusuar UNAIR in kajian No comments
Apa
Kabar Fasilitas Kampus?
Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) Mercusuar Universitas Airlangga telah mengadakan Diskusi Publik dengan judul ‘Apa Kabar Fasilitas Kampus?’ pada Jumat, 26 September 2014. Seperti yang dikatakan Ketua Umum LPM Mercusuar, Fahri Huseinsyah bahwa Diskusi Publik ini diadakan dengan tujuan agar mahasiswa memiliki forum untuk pembahasan isu-isu yang aktual dan sangat krusial sehingga mahasiswa dapat menyampaikan argumentasi kritisnya, kemudian secara bersama-sama menemukan solusi untuk melakukan eksekusi terhadap permasalahan yang sedang dihadapi, “Kami dari LPM Mercusuar bermaksud mengadakan kegiatan seperti ini yang nantinya akan diadakan secara rutin dan kontinyu. Di Unair ini kita memerlukan adanya forum diskusi yang kontinyu, konsisten, dan kritis untuk isu-isu yang bisa dibilang ‘sexy’ seperti masalah fasilitas kampus, utamanya mengenai lahan parkir seperti ini. Kita di sini mempertanyakan sinkronisasi predikat Universitas Airlangga sebagai World Class University dengan ketersediaan fasilitas kampus yang kurang memadai. Ketika organisasi mahasiswa lainnya belum ada yang berani mengangkat isu seperti ini, kami dari LPM Mercusuar ingin memberikan wadah kepada seluruh rekan-rekan Mahasiswa Universitas Airlangga untuk bersama-sama membahas titik permasalahan yang ada dan kemudian menemukan langkah konkret berupa solusi.”
Diskusi Publik dengan judul ‘Apa Kabar Fasilitas Kampus?’ akhirnya dipilih oleh LPM Mercusuar setelah melihat semakin kurang memadainya fasilitas yang diberikan oleh pihak universitas kepada mahasiswa. Kondisi tersebut diperparah dengan pilihan mahasiswa yang terkesan mendiamkan permasalahan tanpa ingin membuat langkah nyata untuk menyelesaikannya. Fahri mengatakan “Dari diskusi ini, LPM Mecusuar mengaharapan adanya output yakni dapat menemukan solusi dari permasalahan yang ada, dan melalui diskusi ini mahasiswa dapat terlibat langsung dalam penemuan solusi tersebut, sehingga mahasiswa tidak terkesan mendiamkan dan apatis.” Dalam diskusi publik tersebut, LPM Mercusuar menghadirkan dua pembicara, yakni yang pertama adalah Mas Bustomi yang dulunya pernah menjabat sebagai Menteri Kebijakan Publik Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Airlangga (BEM UA) Tahun 2010, dan yang kedua adalah Yoeka Firike yang pernah menjabat sebagai Ketua BEM Fakultas Ilmu Budaya (FIB) UA Tahun 2012.
Diskusi terbagi ke dalam tiga sesi. Pertama, sesi pembahasan permasalahan oleh pembicara. Kedua adalah sesi dialog interaktif antara peserta diskusi dengan pembicara. Dan ketiga, sesi kesimpulan dan rekomendasi. Dalam sesi pertama Yoeka Firike mengatakan bahwa fasilitas fisik seperti bangunan di Universitas Airlangga memang bertambah, akan tetapi yang harus digaris bawahi adalah apakah fasilitas yang ada sekarang sudah cukup memadai untuk keseluruhan jumlah mahasiswa, apalagi mengingat jumlah mahasiswa yang semakin tahun semakin bertambah. Salah satu masalah fasilitas yang sangat terlihat jelas adalah tempat parkir. Menurut Yoeka, pada Tahun 2011 permasalahan parkir juga pernah terjadi. Kampus terlihat semakin padat karena jumlah mahasiswa dan kendaraan bertambah drastis. Saat itu di Fakultas FIB, mahasiswa kesulitan untuk parkir karena adanya pemindahan lokasi Fakultas Psikologi dan ketidak jelasan tentang status lahan parkir di area kampus milik fakultas yang mana. Melihat kondisi yang demikian, Yoeka yang saat itu menjabat sebagai Menkominfo FIB yang bertugas untuk menyuarakan aspirasi mahasiswa FIB memutuskan untuk melakukan dialog dengan pihak birokrat fakultas dan rektorat. Akhirnya keputusan yang didapat adalah bahwa tidak ada lagi lahan parkir fakultas, yang ada adalah lahan parkir universitas sehingga Mahasiswa Universitas Airlangga dari fakultas manapun berhak untuk parkir di fakultas manapun. Akan tetapi dalam realitasnya, tetap tidak ada perubahan yang signifikan. Pada tahun 2012 saat Yoeka terpilih sebagai Ketua BEM FIB, Yoeka semakin ingin mempertanyakan kondisi fasilitas di Universitas Airlangga. Akhirnya Yoeka melakukan mediasi kepada pihak rektorat dengan berkoordinasi bersama Organisasi mahasiswa (Ormawa) fakultas dan universitas. Akan tetapi, yang sangat disayangkan saat akan membicarakan permasalahan ini ke pihak rektorat, ormawa universitas terlihat berjalan sendiri-sendiri. Akibatnya ormawa yang bergerak secara parsial tentu tidak dapat melakukan tekanan yang kuat kepada pihak rektorat.
Yoeka yang pernah mendapat kesempatan untuk berkunjung di Universitas Malaya, Malaysia mencoba memberikan sebuah komparasi antara kondisi di Universitas Airlangga dengan di Universias Malaya. Saat Universitas Malaya ingin meningkatkan kualitas mahasiswanya supaya siap dalam menghadapi Asean Economic Community (AEC). Salah satu kebijakan yang dilakukan Universitas Malaya untuk meningkatkan kualitas mahasiswanya adalah sejak Tahun 2011, Univesritas Malaya memangkas kuota mahasiswa baru sebanyak 50% setiap tahunnya dan kemudian semakin menambah fasilitas yang ada di kampus. Melihat kondisi Universitas Airlangga sekarang ini, Yoeka teringat dengan kata-kata salah satu dosen sejarah FIB, Bapak Sarkawi. Beliau berkata, “Indonesia nggak terlalu banyak membutuhkan sejarahwan. Kita butuh sejarahwan yang real, the real sejarahwan, bukan sejarahawan yang sejarah-sejarahan. Penambahan kuota mahasiswa bukanlah hal yang salah, yang salah adalah apabila pertambahan mahasiswa tidak diimbangi dengan peningkatan kualitas fasilitas yang ditawarkan oleh kampus itu sendiri. Sekarang, dosen saja terlalu sedikit jika dibandingkan dengan jumlah mahasiswa yang sangat banyak ini. Itu pasti akan mempengaruhi kualitas akademis dari mahasiswa.”
Kebijakan yang dilakukan Univeritas Malaya harusnya bisa juga dibuat oleh Universitas Airlangga. Universitas Airlangga, setiap tahunnya kuota mahasiswa baru ditambah dan tidak diimbangi dengan progres peningkatan fasilitas yang berimbang. Hal tersebut akan berpengaruh pada kegiatan akademis dan kegiatan mahasiswa lainnya, misalnya di FIB dan Fakultas Ekonomi Bisnis (FEB) mahasiswa harus berebut kuota mata kuliah saat pengisian Kartu Rencana Studi (KRS) dan di FEB banyak jadwal antar mata kuliah yang akhirnya bentrok. Sementara di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) mushola tergusur karena pembangunan salah satu gedung. Selain itu, terkadang mahasiswa sering terlambat masuk kelas karena kesulitan mencari tempat parkir. Yoeka menilai kondisi kampus yang kurang diimbangi dengan fasilitas yang memadai juga diperparah dengan kondisi mahasiswa itu sendiri di mana dari tahun ke tahun gerakan mahasiswa cenderung melemah. Ormawa-ormawa yang ada di kampus juga kurang melakukan sosialisasi mengenai fasilitas dan kondisi yang ada di kampus kepada mahasiswa baru. Mahasiswa seperti sudah nyaman dan terlena dengan fasilitas dan predikat Universitas Airlangga sebagai World Class University. Karena kurang adanya kontrol dari mahasiswa mengenai kondisi fasilitas kampus, maka pihak birokrat kampus cenderung sangat leluasa dalam membuat kebijakan. Yoeka sangat menyayangkan apabila mahasiswa hanya diam ketika menghadapi permasalahan di lingkungannya sendiri. Sikap diam mahasiswa menunjukkan bahwa predikat mahasiswa sebagai kontrol sosial dan agent of change hanyalah sebuah label semata.
Dalam Diskusi Publik ini Mas Bustomi berpendapat bahwa sekarang dunia nyata sudah berpindah ke dunia maya. Hanya butuh waktu sepersekian detik di dunia maya untuk mengetahui apa yang sedang terjadi di Universitas Airlangga. Aksi-aksi dan gerakan di dunia maya lebih mendapat respon tinggi jika dibandingkan dengan gerakan dan aksi di dunia nyata, pada hal sebenarnya harus ada keseimbangan antara aksi di dunia maya dan di dunia nyata. Menurut Mas Bustomi, mahasiswa harus bisa berpikir kritis dan substantif serta dapat malakukan pemetaan saat melihat sebuah permasalahan. Mahasiswa harus menganalogikan kampus sebagai mini state di mana universitas adalah sebuah negara. Setiap kampus mulai dari kampus A sampai D adalah sebagai provinsi dan fakultas adalah sebuah kabupaten/kota. Setiap tingkatan di negara tersebut tentu memiliki pemerintahan masing-masing seperti misalnya BEM Fakultas, HIMA Prodi dan ormawa lainnya. Keseluruhan tingkatan tersebut harus saling berkoordinasi dan melakukan konsolidasi terkait penyelesaian atas permasalahan yang terjadi. Peran masing-masing ormawa sangatlah penting, terutama misalnya saat masa orientasi mahasiswa, seharusnya ormawa memberikan sosialisasi kepada seluruh mahasiswa baru tentang akses dan penyelesaian permasalahan apabila ada akses yang bermasalah, baik itu akses mengenai literatur, perpustakaan, wifi dan lain sebagainya.
Apabila berbicara tentang masalah teampat parkir, Mas Bustomi mengatakan bahwa penyebab utamanya ada tiga. Yang pertama adalah lahan yang terbatas, yang kedua adalah kendaraan yang semakin bertambah, dan yang ketiga adalah jumlah wsiudawan yang sedikit. Berbicara tentang tempat parkir berarti berbicara tentang kontur geografis dan space. Jika space terbatas dan kuota mahasiswa terus ditambah tentu hal tersebut terlihat seperti pola pikir kapitalistik. Ada beberapa cara untuk mengurangi kepadatan kendaraan tersebut, seperti misalnya jika melihat mahasiswa di univeristas-universitas di Thailand selalu membiasakan diri berangkat ke kampus bersama teman dengan menggunakan sepeda. Hal itu bisa diterapkan di Universitas Airlangga, misalnya dengan menyelenggarakan “gowes ke kampus” secara serentak, tentu hal tersebut memiliki banyak dampak positif, selain mengurangi kepadatan kampus, melaksanakan go green, juga apabila sampai diliput media bisa menumbuhkan citra positif untuk Universitas Airlangga. Mas Bustomi mengatakan “Kalau pengen citra bagus dan bikin rekor muri nggak perlu repot, cukup menyelenggarakan gerakan gowes ke kampus secara serentak.”
Selain itu, Mas Bustomi juga membandingkan dengan kebijakan yang ada di Kyung Hee University, Korea Selatan, di sana mahasiswa yang membawa mobil harus rela membayar biaya parkir dengan harga mahal. Selanjutnya menurut Mas Bustomi, mahasiwa juga harus bisa menempatkan diri sesuai dengan predikat yang diberikan kepada Universitas Airlangga sebagai Peraih Juara 5 dalam Pimnas, The Big Five University dan sebagai World Class University serta sebagai universitas yang mencoba untuk menjadi kampus reseacrh. Dengan predikat yang demikian, mahasiswa juga harus menemukan solusi dari sebuah permasalahan dengan cara pikir yang ilmiah dan logis. Seperti misalnya untuk masalah fasilitas kampus, antara mahasiswa eksak dan non eksak bisa saling bekerja sama melakukan riset sederhana yakni mahasiswa eksak melakukan riset tentang fasilitas kampus secara kuantitatif dan mahasiswa non eksak melakukan riset secara kualtitatif. Data-data tersebut dapat diperoleh dengan memanfaatkan tingkatan per universitas seperti yang telah disebutkan di awal, yakni melalui fakultas, hima dan kemudian per angkatan di setiap prodi. Dengan cara yang demikian, maka akan dapat ditemukan solusi yang komperhensif dan tidak bersifat parsial. Dengan data-data tersebut selanjutnya keseluruhan ormawa dalam setiap jenjang dapat melakukan dialog kepada pihak universitas, sehingga mahasiswa tidak hanya menyuguhkan kritikan, akan tetapi juga dapat memberikan solusi berdasar. Dengan demikian mahasiswa memiliki bergaianning position yang sangat bagus, dan bergaianning position juga bisa dinaikkan dengan pemanfaatan peran media massa dan sosial media.
Melalui dialog interaktif dalam diskusi publik yang telah dilakukan LPM Mercusuar dapat terlihat masih banyak kekurangan fasilitas yang ada di Universitas Airlangga, seperti misalnya laboratorium FKH yang kurang memadai, bocornya atap Student Centre (SC) Situs (nama lembaga pers di FIB), kuota kelas mata kuliah untuk mahasiswa FEB, akses perpustakaan yang semakin menurun mulai dari jadwal tutup perpustakaan sampai akes ruang diskusi serta batas maksimal peminjaman buku, akses jurnal dan wifi yang kurang, serta nasib mahasiswa vokasi yang masih harus direpotkan dan dibingungkan saat pengurusan masalah administratif.
Dari diskusi publik ini dapat disimpulkan bahwa permasalahan yang muncul harus diselesaikan secara komperhensif oleh seluruh jajaran oramawa di Universitas Airlangga. Ormawa tidak boleh bekerja sendiri secara parsial, gebrakan baru bisa dirasakan apabila ada konsolidasi antara ormawa dari setiap tingkatan di Universitas. Mahasiswa juga harus menunjukkan fungsinya sebagai kontrol sosial yang tidak hanya diam saat melihat permasalahan, akan tetapi dapat melakukan dialog dan gerakan nyata untuk menyelesaikan permasalahan. Harapan dari Yoeka untuk semua mahasiswa Universitas Airlangga adalah “Mahasiswa harus memiliki keberanian berpendapat dan tidak hanya diam saat melihat masalah di lingkungannya. Mahasiswa harus menjadi mahsiswa yang tidak hanya pandai secara akademik akan tetapi juga harus memiliki kepedulian sosial.” Sedangkan satu harapan dari Mas Bustomi untuk mahasiswa Universitas Airlangga adalah “Tunjukukan lagi reaksi, perkaya referensi, tingkatkan intensitas diskusi supaya kamu mampu menemukan apa itu substansi, sehingga kamu mampu menemukan solusi, dan akhirnya kamu bisa menyatakan ini diri!”
Dari diskusi publik ini dapat disimpulkan bahwa permasalahan yang muncul harus diselesaikan secara komperhensif oleh seluruh jajaran oramawa di Universitas Airlangga. Ormawa tidak boleh bekerja sendiri secara parsial, gebrakan baru bisa dirasakan apabila ada konsolidasi antara ormawa dari setiap tingkatan di Universitas. Mahasiswa juga harus menunjukkan fungsinya sebagai kontrol sosial yang tidak hanya diam saat melihat permasalahan, akan tetapi dapat melakukan dialog dan gerakan nyata untuk menyelesaikan permasalahan. Harapan dari Yoeka untuk semua mahasiswa Universitas Airlangga adalah “Mahasiswa harus memiliki keberanian berpendapat dan tidak hanya diam saat melihat masalah di lingkungannya. Mahasiswa harus menjadi mahsiswa yang tidak hanya pandai secara akademik akan tetapi juga harus memiliki kepedulian sosial.” Sedangkan satu harapan dari Mas Bustomi untuk mahasiswa Universitas Airlangga adalah “Tunjukukan lagi reaksi, perkaya referensi, tingkatkan intensitas diskusi supaya kamu mampu menemukan apa itu substansi, sehingga kamu mampu menemukan solusi, dan akhirnya kamu bisa menyatakan ini diri!”
Sunday, July 6, 2014
On 10:16 PM by LPM Mercusuar UNAIR in Pengumuman No comments
Nama-nama lolos seleksi interview :
1. Galang Ksatria
2. Uzzy
3. Agung Hari
4. Ika
5. Riska Ayu
6. Bilqis
7. Machibudin
8. Rediana
9. Anggresti
10. Syahrizal
11. Siti Mahmudah
12. Moh. Irfansyah
13. Henydria
14. Maria
15. Shinta
16. Ilham
17. Nikki Samuasa
18. Najiyah
19. Faiz
Selamat kepada nama-nama yang lolos. Selamat datang di keluarga besar LPM Mercusuar Universitas Airlangga. Salam Persma!
1. Galang Ksatria
2. Uzzy
3. Agung Hari
4. Ika
5. Riska Ayu
6. Bilqis
7. Machibudin
8. Rediana
9. Anggresti
10. Syahrizal
11. Siti Mahmudah
12. Moh. Irfansyah
13. Henydria
14. Maria
15. Shinta
16. Ilham
17. Nikki Samuasa
18. Najiyah
19. Faiz
Selamat kepada nama-nama yang lolos. Selamat datang di keluarga besar LPM Mercusuar Universitas Airlangga. Salam Persma!
Subscribe to:
Posts (Atom)
Search
Popular Posts
-
Pers Pada Orde Lama Orde lama berjalan antara tahun 1945-1966. Pers orde lama dimulai ketika Indonesia merdeka. Wartawan Indonesia m...
-
(Kampus C) LPM Mercusuar Universitas Airlangga pada Kamis (23/10) siang mengadakan kunjungan dalam rangka silaturahmi ke Rektorat ...
-
Pengurus (Dok.LPM Mercusuar) LPM Mercusuar UNAIR memiliki 5 Divisi yang terbagi berdasarkan area dan job desk nya masing-masing. 5 ...
-
Keputusan mengenai penutupan mendadak pada Senin (5/1) oleh Perpustakaan UNAIR kini sudah berubah dan kembali seperti sedia kala. Perpu...
-
*Menjelang Peringatan Hari Reformasi (21 Mei) Ada saat dimana masyarakat mulai terbuka dan berani muncul ke hadapan publik sebagai ger...
Recent Posts
Categories
- 10 November
- 2014-2015
- apa itu LPM MERCUSUAR UNAIR
- Artistik
- BEM FE UI
- BEM UNAIR
- Buletin
- Buletin Mercusuar
- eksternal
- Hari Pahlawan
- Hiburan
- Humas
- Idang Rasjidi Syndicate
- Info
- investigasi
- Isu
- Jawa Pos
- JGTC
- kajian
- Kampus
- Kampus C Unair
- kegiatan
- Kepahlawanan
- Kunjungan institusi
- kunjungan Jawa Pos
- Kunjungan Tempo Biro
- Lembaga Pers Mahasiswa Universitas Airlangga
- liputan
- Litbang
- LPM Mercusuar Unair
- Mahasiswa Unair
- Mercusuar
- new release
- opini
- OPREC
- Oprec Mercusuar
- Pengumuman
- Perpustakaan UNAIR
- pers mahasiswa
- Perusahaan
- Redaksi
- Rekrutmen Terbuka
- Rektorat Unair
- Sejarah pers UNAIR
- Seminar.LPM Mercusuar Unair
- Seputar MERCUSUAR
- Struktur Kepengurusan LPM Mercusuar Universitas Airlangga
- Struktur LPM Mercusuar
- Suara Airlangga
- SUGA
- Surabaya
- UNAIR
- UNAIR Library
- Universitas Airlangga
- update
- Warga Bicara
- wawancara
Sample Text
Labels
- 10 November
- 2014-2015
- apa itu LPM MERCUSUAR UNAIR
- Artistik
- BEM FE UI
- BEM UNAIR
- Buletin
- Buletin Mercusuar
- eksternal
- Hari Pahlawan
- Hiburan
- Humas
- Idang Rasjidi Syndicate
- Info
- investigasi
- Isu
- Jawa Pos
- JGTC
- kajian
- Kampus
- Kampus C Unair
- kegiatan
- Kepahlawanan
- Kunjungan institusi
- kunjungan Jawa Pos
- Kunjungan Tempo Biro
- Lembaga Pers Mahasiswa Universitas Airlangga
- liputan
- Litbang
- LPM Mercusuar Unair
- Mahasiswa Unair
- Mercusuar
- new release
- opini
- OPREC
- Oprec Mercusuar
- Pengumuman
- Perpustakaan UNAIR
- pers mahasiswa
- Perusahaan
- Redaksi
- Rekrutmen Terbuka
- Rektorat Unair
- Sejarah pers UNAIR
- Seminar.LPM Mercusuar Unair
- Seputar MERCUSUAR
- Struktur Kepengurusan LPM Mercusuar Universitas Airlangga
- Struktur LPM Mercusuar
- Suara Airlangga
- SUGA
- Surabaya
- UNAIR
- UNAIR Library
- Universitas Airlangga
- update
- Warga Bicara
- wawancara






