Lembaga Pers Mahasiswa

“Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah” ― Pramoedya Ananta Toer
Showing posts with label liputan. Show all posts
Showing posts with label liputan. Show all posts

Friday, November 14, 2014

Surabaya –  Sekilas tidak ada yang berbeda dari areal BPPNFI di Jl. Gebang Putih No 10, Sukolilo Surabaya.  l. Namun apabila diamati di pojok kanan gerbang, terdapat satu banner sambutan “Selamat datang kepada peserta seminar kebangsaan”. Siang (14/11) pukul 13.00, beberapa anggota LPM Mercusuar memenuhi undangan dalam kehadiranya pada Seminar "Memaknai Keindonesiaan dengan Mengoptimalkan Kearifan Lokal sebagai Gerakan Sosial" yang diselenggarakan oleh Pengurus Wilayah IPPI (Ikatan Putra-Putri Indonesia) Regional Jawa Timur. Di dalam areal BPPNFI yang merupakan kependekan dari Balai Pengembangan Pendidikan Nonformal Dan Informal ini telah menghadirkan berbagai utusan dari institusi-institusi. Mulai dari pengamat, akademisi sampai tokoh-tokoh pemuda dan juga beberapa representasi organisasi mahasiswa. Telah hadir pula perwakilan dari beberapa kelompok Karang Taruna dan KNPI Jawa Timur

Thursday, November 13, 2014

berikut adalah secuplik pendapat dan komentar dari beberapa mahasiswa UNAIR yang sempat diwawancarai oleh tim kami (LPM Mercusuar) terkait kebijakan terbaru rektorat mengenai peraturan Parkir terbaru. seperti apa komentar mereka? Check This out!!

Wawancara 1

Wawancara II

silahkan sampaikan tanggapan anda di kolom komentar.

Thursday, October 23, 2014

On 5:49 AM by LPM Mercusuar UNAIR in    1 comment




(Kampus C) LPM Mercusuar Universitas Airlangga pada Kamis (23/10) siang mengadakan kunjungan dalam rangka silaturahmi ke Rektorat Universitas Airlangga dan BEM Universitas Airlangga. Beranggotakan 3 orang, Ahalla Tsauro, Ahmad Fahri dan Magita N.S, tim Mercusuar menemui langsung Direktur Kemahasiswaan Universitas Airlangga, Bapak Eko Supeno. Kunjungan ini dimaksudkan sebagai salah satu peran LPM Mercusuar Unair untuk membangun relasi dengan pihak birokrat kampus. Selepas perkenalan diri, LPM Mercusuar Unair menjelaskan aktivitas-aktivitas yang telah dilakukan dan dijalankan selama ini. Sebagai organisasi jurnalistik, selayaknya tradisi seperti diskusi dan menulis merupakan sebuah keniscyaaan.  Diskusi yang sifatnya internal organisasi dan diskusi mengundang publik (civitas academica). Ahalla Tsauro, yang juga menjabat sebagai Wakil Pimpinan Redaksi di LPM Mercusuar Unair, menjelaskan progresivitas kegiatan organisasi secara kontinyu dan rutin meski dengan penuh keterbatasan. Salah satu aktivitas yang terlihat adalah Diskusi Publik, dan Riset yang dikawal oleh Litbang LPM Mercusuar Unair dengan mengambil sub-tema parkiran.

Dirmawa Unair, Bapak Eko Supeno, dalam pandanganya, beliau berpendapat bahwa kenyataan bahwa mahasiswa Unair yang “membludak” tidak bisa dihindari sebagai tuntuntan akademik dan permintaan masyarakat. “Banyak orang tua yang mencita-citakan anak-anaknya untuk bisa kuliah disini (UNAIR,red), betapa beruntungnya kalian bisa menjadi salah satu bagian dari kampus ini, mana mungkin kita membatasi sekian banyak permintaan untuk masuk Unair?”. Pendapat beliau ditujukan untuk memaparkan problematika parkiran sebagai salah satu momok dari mahasiswa, dan keniscayaan rasio antara mahasiswa masuk dan keluar yang timpang. “tetapi kita kan sudah mengupayakan agar masalah ini (parkiran,red) bisa diatasi, sekarang kita sudah buka lahan di belakang FISIP atau Syariah Tower sebagai area parkir “. 

Juga LPM Mercusuar memaparkan progress dalam bentuk produk jurnalistik, yakni beberapa eksemplar buletin edisi Oktober. Magita, mahasiswa Fakultas Keperawatan, yang juga staf Humas LPM Mercusuar juga menjelaskan bahwa sebagai organisasi yang sedang dalam tahap internalisasi, LPM Mercusuar harus berhadapan pada luasnya wilayah kerja, yakni satu Universitas. Sekaligus dalam masa “merintis” setelah beberapa tahun mengalami kekosongan, maka membangun kembali organisasi menjadi tantangan terbesar bagi LPM Mercusuar Unair. Pada sesi sharing tersebut, Bapak Eko Supeno memberi banyak masukan mengenai idealita dari organisasi pers mahasiswa, dalam segi penggarapan teknis berita sampai manajemen organisasi. Hal tersebut sejalan dengan pendapat yang diutarakan oleh Tim Mercusuar.

Kunjungan kedua yakni menuju Sekretariat BEM UNAIR yang persis bertempat di belakang gedung Rektorat Unair. Kondisi Sekretariat yang relatif lebih sepi, tim Mercusuar disambut oleh Presiden BEM UNAIR, Bintang Gumilang dan Menteri Pemberdayaan Perempuan BEM UNAIR, Priesta Desianti (FISIP 2011) dan terlihat aktivitas dari beberapa kementerian. Dalam diskusi dengan Presbem, Tim Mercusuar memaparkan aktivitas-aktivitas yang sudah berlangsung, sedang berlangsung dan yang sedang disiapkan untuk dilaksanakan dalam waktu dekat. Ada beberapa informasi yang disampaikan oleh mas Bintang (Presbem) saat itu, yaitu tentang pembangunan secara bertahap UNAIR Banyuwangi yang sedang dalam tahap merintis pasca peresmianya pada Minggu (19/10) kemarin. Termasuk pengelolaan administrasi dan sistem yang otomatis menjadi lebih luas dan menjadi konsekuensi dari perluasan dan bentuk dedikasi yang lebih nyata kampus Unair untuk Jawa Timur, terutama masyarakat Banyuwangi. Agenda BEM UNAIR juga termasuk membantu mahasiswa di kampus Banyuwangi dalam skala aktivitas organisasi dan membangun sistem organisasi di sana. “Kita (BEM Unair.red) sedang berupaya dan merintis organisasi-organisasi baru disana, bahkan sedang juga disiapkan komunitas-komunitas olahraga dan minat bakat, yang kelak akan jadi cikal bakal UKM, ujar mas Bintang yang juga mahasiswa FKM Unair. Bahkan dipaparkan bahwa minimal BEM UNAIR harus mengadakan kunjungan ke kampus Banyuwangi dengan tujuan pengawalan kegiatan mahasiswa dan pembentukan organisasi mahasiswa disana. 

Saran langsung dari Presbem, adalah bahwa Mercusuar harus juga menyorot isu yang lebih luas, salah satunya perkembangan Unair Banyuwangi, yang meski dalam pendirian dan peresmianya mendapat banyak apresiasi, akan tetapi bukan berarti nantinya tanpa masalah, ujar mas Bintang. Ahmad Fahri, selaku ketua LPM Mercusuar Unair, juga menyampaikan bahwa dalam waktu dekat LPM Mercusuar akan dijanjikan kiriman rutin Koran Kompas langsung oleh Kantor Kompas Gramedia Jawa Timur, yang pasalnya alamat pengiriman akan ditujukan di Sekretariat BEM UNAIR dalam waktu dekat. Doakan agar segera terealisasi.  (ahl/fhr/mgt).

Saturday, June 21, 2014

On 2:41 PM by LPM Mercusuar UNAIR in    No comments
Surabaya— Pada hari Sabtu (14/6), tiga perwakilan Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) Mercusuar, Universitas Airlangga yakni Vijai Indoputra, Rizaldy Yusuf, dan Adi Nurahman Pratama, mengikuti acara diskusi yang diadakan oleh kompas. Judul acara ini adalah “Mahasiswa Berbicara”. Artinya adalah bagaimana keterlibatan mahasiswa dalam mengawasi proses pemerintahan, melakukan kritik terhadap pelanggaran hukum, ketidakadilan sosial, dan isu-isu lainnya. Diskusi yang diadakan di Gramedia Kompas (Jalan Jemursari 64 Lt.3) ini juga membahas mengenai tantangan yang dihadapi oleh lembaga pers mahasiswa hingga solusinya. Diskusi ini dihadiri oleh LPM se-surabaya, misalnya LPM 1.0 dari ITS, Laskar Ambisius dari IAIN Sunan Ampel, Sesasi dari Universitas Negeri Surabaya dan belasan LPM lainnya.

Wisnu Nugroho selaku pembicara membuka diskusi dengan menceritakan pengalamannya ketika menjadi mahasiswa di Sekolah Tinggi Filsafat Driyakarya pada masa transisi, yakni orde baru dan reformasi. Wartawan kompas yang telah 13 tahun berkarya dibidang jurnalistik itu, menyebutkan bahwa “lembaga pers mahasiswa saat ini telah kehilangan rohnya.” Pers mahasiswa saat ini tengah kehilangan arah sehingga tidak fokus pada permasalahan sosial yang ada pada lingkungan namun hanya pada acara-acara internal yang tidak menarik lagi untuk ditunggu oleh mahasiswa.” Selain itu permasalahan pendanaan yang berasal dari Universitas masih menjadi kendala umum LPM, sehingga sulit untuk mengkritisi keputusan birokrasi kampus. Belum lagi kepedulian mahasiswa saat ini sangat rendah terhadap permasalahan sosial, hingga hampir semua permasalahan dianggap sebagai angin lalu. “Tahu, tapi tidak melakukan apa-apa” ujar Wisnu. “Dari 27.000 mahasiswa Unesa, hanya 300 klik yang berhasil didapatkan dalam sebuah berita yang dipublikasikan via media online", mahasiswa dari Sesasi manambahkan.

Mengenai pendanaan, salah satu mahasiswa menawarkan solusi. Bahwa kedudukan Pers yang ada dikampusnya sejajar dengan posisi rektor sehingga pihak rektor tidak dapat menekan lembaga independen tersebut. Mengenai rendahnya minat mahasiswa, Lembaga pers saat ini, harus lebih kreatif dalam menyusun berita, khususnya berita online. Solusi yang ditawarkan oleh Wisnu adalah judul berita harus menarik, tetapi tetap memperhatikan kesesuaian dengan isi; tidak boleh lebih dari 500 kata, karena mata akan kelelahan jika tulisannya terlalu banyak; dan sertakan dengan ilustrasi gambar, grafik ataupun foto.

Melalui acara ini, Kompas ingin menjadi “provokator menulis” bagi mahasiswa. Artinya mewadahi kemampuan analisis mahasiswa dengan memfasilitasi beberapa halaman rubrik mahasiswa. Rubrik ini nantinya akan memuat tulisan mahasiswa seputar ‘kegelisahan’ mahasiswa. Tulisan dapat berupa kritik maupun solusi khususnya tentang keberlangsungan proses pemilu presiden, yang akan diadakan pada, 9 Juli 2014 nanti. Mahasiswa dapat mengirimkan tulisannya sebanyak 2 halaman ke alamat email redaksi kompas di mahasiswabicara@kompas.com dengan honorium bagi yang tulisannya dimuat (Redaksi).

On 2:40 PM by LPM Mercusuar UNAIR in    No comments
Dalam rangka menghidupkan kembali kegiatan pers mahasiswa di kampus-kampus, Tempo Media Group pada hari Jum’at tepatnya tanggal 13 Juni 2014 mengundang pengurus Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) Mercusuar Universitas Airlangga untuk mengikuti kegiatan seminar jurnalistik. Pada kegiatan tersebut, enam pengurus LPM Mercusuar yang hadir yakni Ahmad Fahri Huseinsyah, Rizka Perdana, Fakhry Ilmullah, Ahalla Tsauro, Auliya Rahman, dan Larasati Andayani, disambut hangat oleh karyawan dan staf Tempo yang kantornya bertempat di Surabaya. Walaupun berbentuk seminar, kegiatan tersebut berlangsung sangat santai. Mas Agus, selaku kepala Biro Tempo Surabaya, sebelum memulai kegiatan mempersilakan kami para peserta untuk terlebih dahulu menyampaikan pertanyaan dan agenda pers yang menjadi tujuan di LPM. Kesempatan tersebut pun tidak disia-siakan oleh peserta. Ahmad Fahri selaku pimpinan redaksi LPM Mercusuar Unair menanyakan mengenai tiga hal pokok yakni proses pengolahan berita agar menjadi sebuah berita yang layak, pembagian divisi, dan bagaimana LPM dijadikan bukan sekedar sebagai organisasi melainkan juga perusahaan yang dapat mengumpulkan dana. Sedangkan Ahalla Tsauro menanyakan mengenai cara sukses Tempo sebagai media yang saat ini masih survive dan diakui eksistensinya walaupun usianya sudah tergolong lama. Pertanyaan-pertanyaan tersebut pun ditanggapi secara antusias oleh Mas Agus.

Menanggapi pertanyaan Ahmad Fahri, Mas Agus menjelaskan mengenai pengolahan berita di dalam Tempo sendiri. Bahwa semua berita yang disajikan Tempo seluruhnya berawal dari rapat redaksi yang dilaksanakan sangat demokratis. Dikatakan demokratis karena seluruh awak Tempo baik yang statusnya masih sebagai calon reporter sampai kepada redaksi maupun redaksi senior, seluruhnya mendapatkan kesempatan yang sama untuk mengusulkan berita. Sejauh berita yang diusulkan tersebut menarik dan mempunyai angle serta news pact, maka berita tersebut kemudian akan digolongkan sebagai berita layak Tempo yang akan ditindaklanjuti untuk kemudian dibuat reportasenya. Proses ini dapat dikatakan perlu ditiru oleh LPM demi mewujudkan iklim yang demokratis dan menekankan kepada keterbukaan. Mengenai pembagian divisi, mas Agus menilai bahwa lima divisi yang telah dibentuk LPM Mercusuar Unair yakni Redaksi, Litbang, Perusahaan, Artistik dan Fotografi, serta Humas sudah dirasa cukup untuk mewadahi jalannya kegiatan pers. Sedangkan dalam hal pengumpulan dana Mas Agus sengaja tidak menjabarkannya karena pada sesi ketiga seminar pertanyaan tersebut banyak dibahas oleh Mas Adi selaku Account Executive di Tempo Surabaya. Selanjutnya, menanggapi pertanyaan Ahalla, Mas Agus menjelaskan bahwa Tempo saat ini masih dapat survive dikarenakan oleh keunggulan konten yang dimilikinya. Mengingat setelah reformasi banyak menjamur media-media yang kritis, maka Tempo saat ini tidak lagi hanya mengandalkan sisi kritis dan gaya penulisan melainkan juga menawarkan pemberitaan yang bersifat investigatif. Investigatif di sini merujuk kepada hal-hal yang perlu diketahui masyarakat tetapi akses informasi tersebut minim dan cenderung ditutup-tutupi. Sejauh ini, media yang memberikan laporan investigatif masih jarang dan Tempo dapat dikatakan sebagai perintis laporan investigatif tersebut sehingga sampai saat ini, Temp masih diminati dan lekat dengan masyarakat. 

Dalam presentasinya, Mas Agus menjelaskan mengenai sejarah singkat pembentukan Tempo. Tempo dibentuk pada tahun 1971 oleh sekelompok anak muda yang terdiri dari Goenawan Muhammad, Fikri Jufri, Christianto Wibisono, dan Usamah. Awalnya mereka tergabung dalam Ekspres, sebuah majalah berita mingguan. Namun karena terdapat perbedaan pendapat, mereka memutuskan keluar dan mendirikan Tempo. Nama Tempo sendiri dipilih karena kata ini dianggap mudah diucapkan dan cocok dengan sifat sebuah media berkala yang jarak terbitnya longgar, yakni mingguan. Edisi perdana majalah Tempo terbit pada 6 Maret 1971. Dengan mengedepankan peliputan berita yang jujur dan berimbang, serta tulisan yang disajikan dalam prosa yang menarik dan jenaka, Tempo tampil beda dan diterima masyarakat.

Tahun 1982, merupakan pertama kalinya Tempo dibredel karena dianggap terlalu tajam mengkritik rezim Orde Baru dan Golkar sebagai kendaraan politiknya. Namun pembredelan ini hanya berlangsung selama dua bulan. Tempo diizinkan terbit kembali setelah menandatangani semacam “janji” di atas kertas segel dengan Ali Moertopo, Menteri Penerangan saat itu. Pengalaman pembredelan tersebut tidak lantas membuat Tempo gentar untuk membuat jurnalisme yang tajam khususnya terhadap pemerintahan Orde Baru. Dengan semakin menguatnya internal redaksi dan laporan jurnalisme yang investigatif, Tempo kembali dinilai terlalu tajam mengkritisi pemerintahan Soeharto. Puncaknya pada tahun 1994, untuk kedua kalinya, Tempo dibredel karena dianggap mengadu domba Habibie dengan Menteri Keuangan saat itu dalam hal pembelian kapal bekas dari Jerman Timur. Setelah Soeharto lengser pada Mei 1998, mereka yang pernah bekerja di Tempo tercerai-berai akibat pembredelan berembug ulang. Mereka membicarakan tentu perlu tidaknya menerbitkan kembali Tempo, dan hasilnya, pada 12 Oktober 1998, majalah Tempo hadir kembali. Karena kekurangan dana dan aset pasca pembredelan, Mas Agus menjelaskan bahwa banyak pihak yang berkepentingan pada saat itu ingin mengakuisisi dan membeli sebagian saham Tempo, namun Tempo berulang kali menolak karena tidak ingin kebebasannya tergadaikan oleh kepentingan-kepentingan pihak tertentu yang ingin menjadikan Tempo sebagai alat. Oleh karenanya, untuk menghindari hal tersebut, Tempo kemudian menawarkan sahamnya kepada publik dan jual secara terbuka di pasar saham, sehingga Tempo merupakan milik bersama, milik publik, bukan milik sekelompok konglomerat atau politisi yang memiliki kepentingan.

Setelah Mas Agus memberikan penjelasan, seminar sesi kedua dilanjutkan dengan Mbak Endri sebagai pembicaranya. Mbak Endri yang merupakan reporter senior di Tempo menjelaskan mengenai materi pelatihan jurnalistik yang disambut antusias oleh para peserta. Mbak Endri dengan gayanya yang sangat santai, membuat materi yang sebenarnya padat menjadi lebih ringan dan lebih mudah diterima. Mbak Endri dalam penjelasannya mengatakan bahwa bahasa merupakan hal yang sangat penting dalam media. Bahasa yang digunakan media haruslah khas agar dapat mudah melekat dan menarik pembaca. Selain itu, rubrikasi juga diperlukan, namun sebelum penentuan rubrik apa saja yang ingin dibuat, penentuan visi dan misi dari media adalah hal yang harus terlebih dahulu ditentukan sehingga arahnya jelas dan rubrik yang akan dibuat akan sejalan dengan visi dan misi media tersebut. Rubrikasi sendiri menurut sifatnya terdiri dari news, info, opini, entertainment, dan bridge (menghubungkan media dengan pembaca). Di antara rubrikasi tersebut, bridge merupakan ciri khas yang dimiliki oleh sebuah media jurnalistik yang tidak didapati pada media lainnya. Bridge memungkinkan pembaca dapat berkomunikasi dan memberikan kritik langsung terhadap media yang biasanya dimuat dalam surat pembaca.

Melihat saat ini banyak media yang mencampuradukkan antara fakta dan opini sehingga menyesatkan pembaca, Mbak Endri menilai bahwa hal tersebut tidaklah dibenarkan. Karena bagaimanapun, berita yang merupakan sebuah fakta tidak seharusnya dibumbui oleh unsur opini. Apabila memang terdapat opini maka opini tersebut dimasukkan dalam rubriknya tersendiri, tidak digabungkan dengan berita yang ditulis di atas fakta. Selanjutnya, Mbak Endri juga menjelaskan mengenai proses produksi berita yang terdiri dari reporting, penulisan, dan editing. Reporting bersumber dari peristiwa, usulan atau liputan yang dapat diperoleh dari reportase dan wawancara. Dalam hal penulisan, Mbak Endri menyebutkan bahwa terdapat empat syarat utama menulis yang harus dipenuhi yakni menguasai masalah, menentukan angle, fokus, dan cover both side. Sedangkan dalam hal editing, hal yang harus diperhatikan adalah penajaman tulisan, pengayaan konteks, logika bahasa, akurasi, dan keamanan (sudahkah mewawancarai semua pihak yang disebut dalam tulisan? sudahkah cover both side?).

Terakhir, mbak Endri memberikan peserta tips untuk menjadi wartawan atau reporter yang baik. Beliau menjelaskan bahwa untuk menjadi seorang wartawan atau reporter yang baik, kita harus dapat berteman dengan semua orang. Dalam artian kita tidak boleh meremehkan narasumber, siapapun orangnya, dari penjaga kubur sampai pejabat negara sekalipun. Selanjutnya, kita diharuskan untuk mengenali sumber luar-dalam, misalnya identitas, karir, hobi, gaya hidup, jaringan sosial ataupun kelemahan dan kelebihannya. Karena dengan begitu, kita akan lebih mudah menggali informasi dari narasumber. Selain itu, kita juga harus kredibel di mata sumber. Dalam artian bahwa kita tidak melakukan wawancara dengan kepala kosong melainkan mempunyai pengetahuan dan informasi yang memadai terkait dengan hal yang akan diperbincangkan. Seorang wartawan atau reporter yang baik menurut Mbak Endri tidak egois dan berkhianat sehingga memperhatikan komitmen off the record dan tidak berlaku pongah serta tidak ngaret dan berpakaian lusuh (meski tak perlu mentereng).

Sesi terakhir dari seminar jurnalistik yang diadakan Tempo ditutup dengan presentasi yang disampaikan oleh mas Adi selaku Account Executive (AE) di Tempo Surabaya. Selain reporter dan redaksi, ternyata terdapat aktor lain yakni AE yang turut berkontribusi bagi jalannya proses produksi jurnalisme media. Sebagai seorang AE, Mas Adi menjelaskan mengenai bagaimana sebuah media mampu mendapatkan dana sehingga kontinuitas produksi dapat tetap berjalan. Mas Adi menyebutkan bahwa terdapat empat pilar utama bisnis media cetak yakni konten, sirkulasi/distribusi, readership, dan iklan. Namun karena keterbatasan waktu, Mas Adi lebih menekankan penjelasan kepada pilar iklan sebagai hal yang sangat krusial bagi bisnis media. Sebagaimana yang diketahui bahwa saat ini, iklan menjadi media yang sangat efektif dalam melancarkan promosi produk. Media kemudian menawarkan perusahaan-perusahaan atau agensi untuk memasang iklannya di media. Tugas AE dalam hal ini adalah menjadi penghubung bagi perusahaan atau agensi periklanan untuk memasang iklan-iklan tersebut di medianya, yang harganya tentu saja sangat fantastis, di mana satu halaman koran atau majalah dapat saja dihargai puluhan atau bahkan ratusan juta rupiah. Dari iklan inilah, media kemudian memperoleh pemasukan yang cukup besar, sehingga kapasitas seorang AE dalam melakukan penawaran dan lobi menjadi penting. Oleh karenanya, mas Adi kemudian memberikan beberapa kiat untuk menjadi seorang AE yang handal, di antaranya, mempunyai rasa percaya diri, good looking (dalam artian rapi dan enak dilihat), berpengetahuan luas, mmepunyai kemampuan menjual dan negosiasi, mampu membangun jaringan dan relasi, serta mengerti kebutuhan klien.

Seminar jurnalistik yang diadakan Tempo Media Group ini memberikan banyak informasi baru dan sekaligus menarik karena informasi tersebut langsung diperoleh dari orang-orang yang sudah lama berkecimpung dalam bidang jurnalistik yang sudah mengalami benar pahit manisnya memburu berita. Melalui kegiatan-kegiatan seminar dan pelatihan jurnalistik yang diadakan oleh media-media seperti Tempo, diharapkan bahwa aktivitas jurnalisme di kampus-kampus semakin menguat lewat lembaga-lembaga pers mahasiswa. Karena bagaimanapun, pers merupakan sarana bagi mahasiswa untuk menumpahkan idenya mengenai berbagai isu yang menjadi urgensi dan perhatian baik di lingkungan kampus maupun masyarakat secara luas. Sehingga keberadaan pers dan aktivitas jurnalisme di kampus harus tetap dipupuk dan tidak boleh dibiarkan mati begitu saja.
On 2:34 PM by LPM Mercusuar UNAIR in    1 comment
SURABAYA – Rabu (11/6) lalu, bertempat di Gedung Pinlabs Universitas Airlangga, Lembaga Pers Mahasiswa Mercusuar menyelenggarakan diskusi kebangsaan untuk memperingati hari kelahiran pancasila. Bertema “Mahasiswa, Pancasila dan Peradaban”, diskusi kecil yang diikuti oleh beberapa elemen pers fakultas dan aktivis mahasiswa, berlangsung interaktif. Diskusi yang dimulai tepat pada pukul 15.30 tersebut dikatakan molor dari waktu yang dijadwalkan oleh panitia. Ahmad Fahri (21), ketua umum LPM Mercusuar mengatakan bahwa diskusi tersebut diadakan dengan persiapan seadanya. 

Tujuan diadakannya diskusi tersebut adalah untuk mengupas tuntas permasalahan yang dihadapi bangsa Indonesia, dan mencoba menemukan kembali jawaban dari semua permasalahan pada Pancasila, Ideologi dan falsafah bangsa Indonesia. Harapannya, setelah diadakannya diskusi tersebut, semangat intelektual mahasiswa dapat bangkit kembali dan menjadi kontribusi besar dengan melahirkan pemikiran-pemikiran baru untuk Indonesia yang lebih baik. Fahrul Muzaqqi(30), Dosen dan peneliti sekaligus pengamat politik dari Universitas Airlangga tersebut diundang sebagai panelis dan memimpin jalannya diskusi. Peserta yang aktif bertanya setelah dipaparkan sejarah dan konsepsi pancasila serta realitas yang ada di dalam masyarakat kekinian, membuat proses diskusi menjadi menarik. Diskusi dua arah terjadi sesuai dengan harapan panitia penyelenggara acara. Pertanyaan-pertanyaan seputar identitas Negara di tengah arus global yang di dominasi budaya dan peradaban barat dilontarkan oleh kawan-kawan pers fakultas dengan kritis. Panelis tidak dengan serta merta menjawab pertanyaan yang diberikan oleh mahasiswa (pers fakultas dan aktivis), namun juga mengajak mahasiswa untuk berpikir. Apa yang seharusnya dan apa yang senyatanya. 

Diskusi tersebut menggali pemikiran-pemikiran untuk Indonesia di masa yang akan depan. Menemukan kecacatan suatu alat dalam sistem pemerintahan dan memberikan saran yang dirasa tepat. Pada akhir diskusi, panelis menyampaikan bahwa bahwa jika mahasiswa pada jaman orde baru memiliki musuh dan tujuan bersama untuk menggulingkan rezim Soeharto, maka tantangan mahasiswa kini adalah menghadapi dirinya sendiri. 

Kembali diskusi tersebut menghadirkan kaca untuk bercermin, masihkah generasi muda terutama mahasiswa menjadikan pancasila sebagai pedoman hidupnya? Pancasila kini seperti pesakitan yang terbaring lemah ditengah bangsa yang menghadapi permasalahan ketidak setaraan, ketidak adilan, intoleransi dan banyak lainnya. Saatnya kita sebagai generasi muda membangkitkan kembali semangat pancasila. Semangat gotong royong, semangat toleransi, semangat kebinekaan dan hal-hal yang kembali menguatkan pancasila. Quo vadis Indonesia? kitalah sebagai generasi muda yang akan menjawab itu dengan apa yang akan kita lakukan dan dengan pilihan yang akan kita ambil. Akhirnya, diskusi yang berlangsung selama satu setengah jam tersebut ditutup oleh puisi berjudul ‘Di bawah kibaran bendera’ oleh Azila (19). (Redaksi
)
On 2:32 PM by LPM Mercusuar UNAIR in    No comments
SURABAYA (6/6)- Setelah beberapa waktu yang lalu sempat terdengar jika Dolly akan ditutup pada 19 Juni. Informasi terbaru mengabarkan bahwa Walikota Surabaya, Tri Rismaharini,akan menutup tempat prostitusi Gang Dolly lebih cepat satu hari sebelumnya, yaitu pada 18 Juni, tepatnya pada hari rabu. Nampaknya, penutupan Dolly tidak hanya sebuah bentuk keputusan dalam bentuk deklarasi dan fornalitas saja. Pemerintah kota tentu sudah mempertimbangkanya dengan masak. Tetapi apa jaminanya? Sampai hari ini belum ada kejelasan tentang bagaimana grand design pemberdayaan masyarakat pasca penutupan. Mengenai rencana santunan terhadap para PSK-PSK dan Mucikari, bukan menjadi tolak ukur keberhasilan pengawalan pasca-Dolly. Seperti yang diutarakan oleh Dalu Kirom, Sekjen KNPI Surabaya di suatu sesi diskusi, “jika setelah deklarasi penutupan, selanjutnya adalah himbauan kepada yang terkait, dan 1 minggu setelah itu dibagikan duit santunan sebagaimana yang telah dijanjikan pemerintah”, ujarnya. Namun tidak aka nada taken for granted apabila nantinya benar bahwa masyarakat pasca Dolly ditutup dapat secara mandiri berkegiatan ekonomi. 

Mengingat Dolly adalah ibarat pusat ketergantungan dari mayoritas ekonomi masyrakat sekitar. “Banyak yang menggantungkan ekonominya, mulai dari jasa laundry, warung-warung,petugas parkir, dan lainya”, ujar Avisenna, Menko BEM ITS Surabaya. yang jelas,penutupan Dolly sudah menjadi kontroversi di Surabaya sejak lama. Isu mengenai penutupan Dolly bukanlah barang baru, sudah pernah digaungkan bahkan sebelum Walikota terpilih, Tri Rismaharini menjabat. Dari adanya pertentangan antara pihak yang pro dan kotra sekaligus, sebenarnya mengindikasikan bahwa rencana penutupan Dolly beleum menemukan format yang jelas, bahkan belum diketahui mekanisme penutupanya akan seperti apa. Apalagi bicara program pemberdayaanya. Dan penentangan dari yang tidak menghendaki penutupan, menunjukan bahwa hingga kini berarti pemerintah belum benar-benar punya solusi. 

Mengingat Dolly adalah maslaah yang kompleks. Maka benar-benar dibutuhkan keseriusan dari Pemerintah dan kesiapan semua elemen yang mendukung penutupan. Harapanya setelah terdengar begitu lama, penutupan Dolly untuk tahun ini benar-benar konkrit. Tidak hanya itu, keseiusan penutupan juga harus diimbangi dengan upaya pemerintah terutama Kota Surabaya untuk mengkomunikasikan rencana yang jelas kepada masyarakat dan pihak yang berkepentingan. (Redaksi).
On 2:30 PM by LPM Mercusuar UNAIR in    No comments
SURABAYA- Reformasi diperingati setiap tanggal 21 setiap tahunya. Begitupula yang dilakukan oleh sekelompok mahasiswa dibawah naungan organisasi Lembaga Pers Mahasiswa UNAIR “Mercusuar”. Karena reformasi merupakan salah satu momen heroic bagi mahasiswa, tentu penting halnya untuk melihat Reformasi secara lebih jauh melalui tinjauan-tinjauan yang komprehensif. Melihat realitas tersebut, maka LPM Mercusuar berinisiatif mengadakan sebuah Refleksi Kebangsaan, bertepatan dengan momen Hari Reformasi pada 23 Mei kemarin. Meski tidak berbarengan dengan Hari Reformasi. Refleksi tetap berjalan bahkan melebihi ekspektasi awal. Acara yang diadakan di Taman Apsari pada Jumat (23 Mei 2014) kemarin mengambil tema khusus : Quo Vadis 16 Tahun. Yaitu mempertanyakan kembali arah Reformasi kontemporer, seperti kondisi sekarang ini. Tujuan diadakanya Refleksi selain sebagai kajian, juga bertujuan untuk mempererat tali silaturahim dengan LPM-LPM yang lain. Refleksi Hari Reformasi kemarin dikatakan cukup semarak. Telah hadir pengurus-pengurus LPM “Satu Kosong” ITS, dan beberapa LPM-LPM Fakultas yang berkesempatan hadir pada malam hari itu. Hadir pula petinggi LPM Insight dari Fakultas Psikologi, LPM Situs dari FIB, LPM Sektor FEB dan LPM Venous FKH UNAIR yang semakin memperkaya diskusi kritis pada momentum tersebut. Bertempat di tengah-tengah Taman Apsari, persisnya di depan patung Gub.Suryo, dan menghadap langsung ke depan Jalan Raya dan Gedung Pemerintahan “Grahadi”. Suasana amat semarak dan ditambah dengan hiruk pikuk komunitas-komunitas pemuda dan geng motor yang bersebelahan langsung dengan acara. Yang berkesempatan mengisi sebagai panelis Refleksi Hari Reformasi yaitu mas Arya W Wirayuda, Dosen Ilmu Sejarah, seseorang yang pernah mengecap dan terlibat dalam dunia pergerakan mahasiswa dan sekaligus Mantan Ketua BEM FIB UNAIR. Beliau memaparkan Reformasi dari sudut historis dan filosofi-filosofi sebagai fenomena dan realitas politik di Indonesia. Alur diskusi semakin matang dan mantap. Mengingat pluralitas dari masing-masing elemen yang hadir dalam Refleksi tersebut. Ada audiens yang memperlihatkan bahwa masalah ekonomi menjadi tugas Reformasi ke depan, selain reformasi Birokrasi untuk mengukuhkan fungsi good governance. Ada pula KKN yang menjadi masalah akut bangsa ini, yang harus menjadi agenda tuntas dalam Reformasi ke depan. Ada pula argument dari rekan LPM ITS yang memaparkan bahwa Reformasi kurang memiliki titik-tiitk dan batasan yang jelas, sehingga dampaknya pelaksanaan agenda Reformasi dan evaluasi hingga kini tidak pernah menemukan titik akan kejelasan. Setelah diskusi intensif selama 2,5 Jam, akhirnya acara ditutup dengan menyanyikan lagu Darah Juang dengan khidmat oleh semua audiens yang hadir dan pembacaan salah satu puisi dari Wiji Tukul (aktivis Reformasi) oleh pihak panitia. (Redaksi)