Lembaga Pers Mahasiswa

“Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah” ― Pramoedya Ananta Toer
Showing posts with label opini. Show all posts
Showing posts with label opini. Show all posts

Tuesday, May 26, 2015

On 7:13 PM by LPM Mercusuar UNAIR in    No comments
Menengok Pergerakan Mahasiswa Airlangga di Tahun 1998

“...Kartu mahasiswa telah disimpan.
Dan tas kuliah turun dari bahu,
Mestinya kalian jadi insinyur dan ekonom abad dua puluh satu”.
(Taufiq Ismail )

Puisi diatas menggambarkan kehidupan mahasiswa sebagai sosok yang
mengambil pilihan, diluar pilihan sebagaimana seharusnya. Mahasiswa
keluar dari zona nyaman, untuk sebuah perubahan menuju perbaikan.
Tahun 1998, adalah puncak dari gerakan mahasiswa sebagai reaksi
terhadap kebobrokan ekonomi, pelanggaran hukum dan hak asasi manusia,
korupsi, menurunnya nilai tukar rupiah dan kegagalan fungsi dan tugas
pemerintah lainnya.

Mahasiswa yang seharusnya belajar di dalam kelas dalam wadah
universitas memilih jalan lain untuk menuntut dan melawan rezim
tirani. Pergerakkan mahasiswa seperti ini tidak hanya massif di
ibukota negara saja, melainkan juga di Surabaya. Banyak pihak
mengatakan bahwa pusat pergerakkan mahasiswa Surabaya, berada di
Universitas Airlangga. Salah satu pihak yang mengatakan adalah I Basis
Susilo. Dekan Fisip Unair ini mengatakan bahwa Unair dulu menjadi
pusatnya pergerakkan mahasiswa Surabaya. Sehingga menjadi hal yang
biasa jika di Unair, khususnya di FISIP banyak ditemukan diskusi,
orasi, dan ceramah.

Dari 18 orang yang menjadi korban penculikkan rezim orde baru, dua
diantaranya adalah mahasiswa Unair. Mereka adalah Petrus Bima Anugrah
dan Herman Hendrawan. Dua sosok legenda reformasi ini dikenal getol
meneriakkan perlawanan terhadap rezim Soeharto. Petrus Bima Anugrah
adalah mahasiswa ilmu Komunikasi angkatan 1990, sedangkan Herman
Hendrawan adalah mahasiswa Ilmu Politik angkatan 1993. Kedua orang ini
dikenal memiliki perbedaan tipikal sifat, menurut Basis Susilo (dalam
Paramadina, 2011), Herman dan Bima memang mahasiswa yang dekat dengan
teman-teman mahasiswa dan dosen. Namun, Bima memang terlihat lebih
pendiam, tapi pikirannya sangat kritis. Keduanya adalah aktivis
pro-demokrasi yang juga merupakan anggota Solidaritas Mahasiswa
Indonesia untuk Demokrasi (SMID).

Pergerakkan mahasiswa di Universitas Airlangga di tahun 1998 dikenal
kritis, demokratis, dan majemuk. Setidaknya hal ini nampak dari
pergerakkan Partai Rakyat Demokratik. Perkumpulan Mahasiswa yang
anggotanya adalah beberapa mahasiswa Unair ini getol melakukan
kegiatan mimbar bebas untuk meneriakkan perlawanan. Hal inilah yang
membuat was-was rezim penguasa untuk menghentikkan pergerakkan
mahasiswa di Unair. Di semester yang seharusnya fokus skripsi ini,
Herman menghilang. Hingga pada 12 Mei 1998, dikabarkan Herman diculik
ke Jakarta. Pun demikian dengan Bima yang hilang sejak akhir Maret
1998.

Tahun 1998 adalah babak baru yang menandai masuknya era reformasi.
Segala aturan yang sebelumnya amat membelenggu kebebasan, terhitung
sejak runtuhnya rezim Soeharto di tahun 1998 mulai ada perbaikan ke
arah kebebasan. Meskipun demikian, ada sisa luka yang belum sembuh
atas tragedi Mei 1998, yaitu belum tuntasnya penyelesaian mengenai
penculikkan aktivis.

Sosok Herman dan Bima adalah sosok hebat yang dapat disandingkan
dengan Wiji Tukul. Semangatnya yang tak gentar melawan penjajah, mampu
meruntuhkan tembok besar tirani. Dua legenda ini juga menjadi bukti
pergerakkan mahasiswa di Universitas Airlangga. Ibaratnya, dua legenda
ini adalah obor yang sinarnya tak pernah padam, selalu menyemangati
generasi mahasiswa berikutnya untuk tetap menjalankan fungsi dan
perannya sebagai elit pendidikan yang mampu mengontrol dan mengawal
kebijakan pemerintah.

Meskipun ada beberapa pihak yang mengatakan bahwa pergerakkan
mahasiswa Unair saat ini tumpul dan tidak terdengar gaungnya. Namun
mengenang Bima dan Herman, penulis optimis pergerakkan mahasiswa di
Unair masih tumbuh subur sebagai buah semangat era reformasi.
Setidaknya hal ini tercermin dalam wadah Badan Eksekutif Mahasiswa
(BEM) Unair sebagai eksekutor, konseptor, dan inisiator pergerakkan
mahasiswa di Unair. Dibalik riuhnya persoalan bangsa, terdengar
sayup-mayup diskusi strategis yang diadakan organisasi intra kampus
yang mengklaim sebagai wadah aspirasi, dan representasi mahasiswa di
Unair ini.


Nb: BADAN EKSEKUTIF MAHASISWA (BEM) Universitas Trisakti 2015
menginisiasi 3.500 mahasiswa untuk terlibat dalam peringatan Tragedi
12 Mei. Hal ini dilakukan untuk mengenang EMPAT mahasiswa Trisakti
yang meninggal akibat ditembak ketika demonstrasi. Mereka melakukan
longmarch dari Museum Gajah menuju Istana Presiden, Jakarta Pusat.
Sepanjang perjalanan, mereka membentangkan spanduk dengan isi "MENAGIH
JANJI PEMERINTAH UNTUK MENGUSUT KASUS PENEMBAKKAN dan PENCULIKKAN
PEJUANG REFORMASI".

Oleh : Galang Ksatria Bella

Thursday, November 13, 2014

berikut adalah secuplik pendapat dan komentar dari beberapa mahasiswa UNAIR yang sempat diwawancarai oleh tim kami (LPM Mercusuar) terkait kebijakan terbaru rektorat mengenai peraturan Parkir terbaru. seperti apa komentar mereka? Check This out!!

Wawancara 1

Wawancara II

silahkan sampaikan tanggapan anda di kolom komentar.

Monday, November 10, 2014

On 12:09 PM by LPM Mercusuar UNAIR in    No comments


10 November bukan hanya sekedar seremoni mengenang romantika sejarah yang gemilang dengan pengorbanan heroik para pahlawan yang tak terkira jumlahnya. Bukan juga sekedar peristiwa yang harus diketahui dan diulang-ulang setiap mata pelajaran sejarah di sekolah-sekolah. Hari dimana Agresi Militer Belanda 1 itu berakhir merupakan alasan kedamaian dan keamanan kita menginjak tanah Surabaya, juga Indonesia, hari ini. Hari itu bukan hanya milik Bung Tomo dan arek-arek Suroboyo, tapi juga milik seluruh pemuda pemudi Indonesia yang dengan gagah berani menghadapi mati demi satu tujuan pasti: Merdeka. Darah yang telah menyiprat ke setiap inci tanah ini, kini telah kering dan tertutupi aspal serta bangunan-bangunan. Sejujurnya aku tak tahu apa yang mereka kehendaki untuk aku lakukan setelah perjuangan mereka berakhir berpuluh tahun lalu itu. Saat kutatap tempat mereka bersemayam, aku bertanya, “Apa yang mereka inginkan setelah kemerdekaan berhasil direbut?”. Jika mereka masih bisa menjawab, mungkin mereka akan bilang bermacam-macam, seperti kesejahteraan rakyat, persamaan hak, sembako murah, kesempatan sekolah, politik yang jujur dan bersih, keadilan, dan lainnya. Atau mungkin hanya sebuah harapan kecil untuk melihat bendera berwarna merah dan putih berkibar bebas di tanah ini. Entahlah. Aku tak sempat bertanya. Aku hanya tahu mereka hanya pernah memekikkan satu kalimat, “Merdeka atau Mati.”
Sebuah kutipan yang selalu kuingat (namun sayangnya kulupakan si pembicara) mengatakan, setiap manusia ditakdirkan hidup untuk memainkan sebuah peran di dunia. Apa peran itu, hanya Tuhan dan kita kelak yang akan tahu. Bagiku mungkin para pahlawan dahulu itu memang ditakdirkan untuk menjadi pejuang kemerdekaan, kemudian setelah perannya berhasil dia pentaskan dengan baik, pertunjukkan pun berakhir. Para aktor kembali ke balik panggung yang gelap. Semua yang ada, kembali pada ketiadaan. Mungkin itulah alasan mengapa para pahlawan hanya memekikkan kalimat “Merdeka atau Mati” karena mereka hidup hanya untuk memperjuangkan kemerdekaan, kemudian mati setelah tujuan itu tercapai. Kini pertanyaan pun muncul dibenakku dan mungkin harus kita renungkan, kalimat apa yang akan kita pekikkan sebagai tujuan hidup kita?
On 7:18 AM by LPM Mercusuar UNAIR in    No comments


Mahasiswa adalah intelektual muda dengan ide-ide baru yang masih segar, juga pemikir baru dengan idealisme yang masih dijunjung tinggi. Itulah mengapa mahasiswa disebut sebagai agent of change, agen perubahan. Berdiri diluar sebuah sistem pemerintahan dan masyarakat, pemikiran-pemikiran yang kritis mulai lahir dan menggerakkan masyarakat menuju arah yang dirasa lebih baik, serta melakukan kontrol terhadap pemerintahan. Aktivis mahasiswa yang tidak hanya duduk diam di dalam kelas dan belajar, namun menaruh perhatian pada kehidupan disekitarnya. Dari tahun ke tahun, generasi ini tumbuh menjadi generasi yang acuh dan egois. Mengesampingkan tanggung jawab sosialnya untuk mengejar nilai di atas kertas. Mahasiswa kemudian menjadi jauh dengan rakyat, tempatnya berasal. Asing satu sama lain. “Mahasiswa bukan bagian dari kami.”
Ada segelintir kecil mahasiswa yang masih peka dan peduli dengan permasalahan-permasalahan disekitarnya. Mereka berdiri di depan gedung-gedung pemerintahan, menyuarakan protes dan pemikirannya dengan toa agar mampu didengar. Mereka masih ada, orator-orator  yang berani itu masih ada di depan mata. Yang menjadi sangat langka adalah pemikir yang lebih berani dari orator. penulis yang menelurkan pemikirannya menjadi tulisan, yakni penggerak yang langsung menembus kepala orang-orang dengan gagasan dan pemikirannya. Suara hanya mampu terdengar saat itu, namun tulisan ‘abadi’. Soe Hok Gie menjadi dikenal banyak mahasiswa bahkan bertahun-tahun setelah kematiannya. Ini karena dia menuliskan pemikirannya. Tulisannya mampu membawa orang-orang menyelami pemikirannya, untuk itu Soe Hok Gie masih hidup hingga saat ini. Namanya masih disebut-sebut dalam diskusi-diskusi mahasiswa, bahkan dalam forum lintas disiplin ilmu. Dan kepada generasi ini, dimana menulis tidak lagi menjadi budaya, apakah generasi intelektual ini akan menua bersama umur dan mati bersama jasadnya?
Sebagai generasi televisi dan berbagai macam sosial media, generasi ini dimanjakan oleh perkembangan teknologi, dibuai oleh informasi yang terus datang dari segala arah, kita diuji dengan kemalasan, begitupun yang menjangkiti mahasiswa saat ini. Kondisi inilah yang menjadi nazak intelektualitas, dimana sebuah generasi begitu dekat dengan kematian budaya menulis, membaca, dan berdiskusi. Hal ini dapat dilihat dari keaktifan pers kampus dan fakultas, salah satu cerminan dari pemikiran-pemikiran kritis mahasiswa. Juga perpustakaan yang mulai sepi, atau bahkan ramai namun bukan pada fungsi utamanya, melainkan sebagai tempat nyangkruk dan istirahat saat jeda kelas, atau bahkan sarana berburu wifi dan ‘amunisi’ gadget. Jika virus ini terus menjangkiti mahasiswa, kita tidak akan meninggalkan apa-apa pada generasi selanjutnya, tidak akan dikenang atau bahkan dikenal. Dan pada saat yang bersamaan, mereka akan bertanya apakah generasi kita pernah ada? Ahalla Tsauro, Wakil Divisi Redaksi LPM Mercusuar, saat memberi materi peliputan berita dalam acara Upgrading berkata, “Kalau Descartes berkata je pense donc je suis, yang artinya aku berpikir maka aku ada, sekarang ganti je vous écris donc je suis, aku menulis maka aku ada.”
Semoga dengan ini, budaya menulis, membaca, dan berdiskusi dalam mahasiswa akan hidup kembali. Menciptakan generasi mahasiswa dimana buku, e-book, dan jurnal menjadi konsumsi rutin. Generasi mahasiswa dimana pers mahasiswa hidup dan aktiv untuk terus menghasilkan buletin dan majalah yang kritis. Generasi mahasiswa dimana pemikiran-pemikiran mahasiswa mengisi kolom-kolom opini buletin nasional. Generasi mahasiswa dimana sosial media merupakan sarana untuk bertukar gagasan dan pikiran-pikiran kritis. Hanya dengan itu ide dapat memiliki kaki, berjalan-jalan dipikiran pembaca, dan menembak ratusan bahkan ribuan kepala. Hanya dengan itu generasi ini akan ‘abadi’, tidak lantas mati bersama jasadnya.
(Ditulis Oleh, Chusnul Chotimmah, Mahasiswi Ilmu Politik Universitas Airlangga dan Sekretaris Umum LPM Mercusuar Universitas Airlangga)
On 7:03 AM by LPM Mercusuar UNAIR in    No comments


Hari Pahlawan diperingati pada tanggal 10 Nopember tiap tahunnya. Pada hari itu di pusat kota Pahlawan acara seremonial makin menggema. Tiap tahun semakin banyak acara meriah yang diperingati. Parade juang, upacara, kewajiban mengibarkan bendera merah putih, aksi-aksi teatrikal dari berbagai komunitas, mengunjungi makam pahlawan, dsb.  Namun yang menjadi masalah klasik tiap tahunnya tetaplah sama. Apakah 10 Nopember hanyalah aksi seremonial belaka ataukah sebuah peringatan bagi kita untuk kembali berjuang sesuai dengan nilai-nilai kepahlawanan ?
Nilai-nilai kepahlawanan
Rela berkorban demi bangsa dan negara merupakan hal yang paling esensial ketika merujuk kata pahlawan. Pejuang dulu banyak yang berkorban secara fisik. Mereka rela mempertaruhkan nyawa di medan perang untuk mencapai keinginan bersama berupa kemerdekaan. Kepentingan negara seringkali didahulukan daripada kepetingan keluarga sekalipun. Mereka rela melakukan apapun demi membela negara Indonesia tercinta. Selain dalam bentuk fisik pengorbanan juga dilakukan dalam bentuk pemikiran. Pemimpin dan "arsitek" pembentukan negara seperti Ir. Soekarno, Muh.Yamin, M. Hatta, Tan Malaka adalah segelintir pemikir-pemikir era perjuangan. Sama pentingnya seperti peperangan dalam bentuk fisik. Karya dan tulisan yang mereka buat telah membangkitkan semangat rakyat Indonesia dan juga mendidik bangsa akan pentingnya kemerdekaan.
Mereka yang disebut pahlawan dahulu juga mempunyai sifat berani untuk menentang penjajahan, menentang sekutu, walau hanya dengan modal senjata secukupnya. Sebilah bambu maupun dengan tangan kosong tak menghalangi para pejuang untuk tetap berperang membela tanah air. Rasa dan keinginan untuk merdeka, untuk kebaikan bangsa jauh mengalahkan rasa takut terhadap musuh yang mempunyai persenjataan lebih lengkap. Lalu, rasa ikhlas juga menjadi pelengkap nilai-nilai kepahlawanan. Ikhlas berarti secara tulus memberi pertolongan kepada sesama, merelakan sebagian yang dimiliki, serta jujur dalam perkataan dan perbuatan. Tanpa rasa ikhlas tanpa pamrih tentu saja pahlawan tak akan mampu untuk berperang. Rasa ikhlas menumbuhkan rasa semangat rela berkorban, berani menentang musuh, melawan penjajah sehingga cita-cita bersama dapat tercapai yaitu kemerdekaan.
Kepahlawanan Kini
Pertanyaan yang mengemuka saat ini adalah apakah nilai-nilai kepahlawanan itu masih ada ? Ketika kita melihat media televisi maupun online pemberitaan utama adalah seputar kasus korupsi, kisruh DPR, perebutan kekuasaan, kejahatan, pencurian, dan berbagai pemberitaan negatif lainnya. Beberapa orang coba untuk berkuasa di wilayahnya sendiri, ataupun di pusat dengan cara-cara yang tidak dihalalkan. Suap menyuap sering terjadi di seluruh sistem pemerintahan. Seolah menjadi hal yang lumrah, suap terjadi mulai dari kepolisian, pemerintah daerah, pusat, kementerian, dan lembaga-lembaga pemerintah lain. Pelakunya tidak hanya elit pemerintah, bahkan masyarakat biasa pun melakukannya. Semisal memperoleh SIM lewat "jalan belakang" dengan membayar lebih kepada oknum terentu. Hal ini tentu saja tidak mencerminkan nilai-nilai kepahlawanan.Dimana rasa rela berkorban? Rasa ikhlas? Berani untuk membela kebenaran ? Apakah semua orang menjadi negatif seperti itu ?
Namun, penulis disini memiliki kepercayaan bahwa tidak semua orang seperti itu. Masih banyak pribadi yang memang menjadikan hidupnya menjadi lebih bermanfaat bagi orang lain. Dunia ini pasti juga diisi dengan orang-orang baik. Masih banyak rakyat yang rela berkorban, iklhas, berani untuk membela kebenaran, serta mengharumkan nama bangsa di kancah internasional. Sudah sering kita dengar capaian anak Indonesia yang sering berprestasi dalam olimpiade tingkat internasional. Mereka ini adalah pahlawan-pahlawan era saat ini. Dalam lingkup yang lebih kecil juga ada komunitas-komunitas yang mempunyai kepedulian terhadap sesama. Memberi makan kepada penduduk miskin secara sukarela, memberi pendidikan gratis kepada anak jalanan merupakan beberapa contoh nyata yang dapat dilakukan komunitas tersebut untuk memajukan bangsa. Ketika kepahlawanan belum bisa dilakukan secara langsung dalam level negara, nilai-nilai kepahlawanan tersebut dapat dimulai dari hal terkecil yang ada di lingkungan sekitar.
Aktualisasi Diri
Kemudian apa yang dapat kita lakukan ? Ketika zaman telah berubah, kita tidak harus lagi berperang secara fisik. Menginjak milenium kedua (2000an keatas) perjuangan yang dilakukan tidaklah sama dengan zaman Perang Dunia II. Dulu perjuangan utama kebanyakan negara adalah untuk meraih kemerdekaan. Banyak negara saat itu masih terbelenggu dalam penjajahan kolonial, termasuk Indonesia. Kini ketika zaman telah berubah, bentuk perjuangan telah berganti. Tidak lagi perjuangan untuk menjadi bangsa merdeka tetapi perjuangan untuk memajukan bangsa. Pahlawan kemudian tidak terpaku pada orang-orang yang berjuang demi kemerdekaan tetapi meluas kepada mereka-mereka yang berusaha untuk memajukan bangsa.
Oleh karena itu untuk berkontribusi kepada bangsa dan menjadi "pahlawan" tugas kita secara individu tidak lain adalah untuk ikut memajukan bangsa. Caranya adalah dengan pendidikan. Pendidikan tidak harus dalam bentuk formal, berbagai pendidikan informal juga semakin penting dilakukan. Mereka yang pandai menulis ikut memajukan bangsa melalui tulisannya, mereka yang pandai bermusik ikut mengharumkan negara dengan lagu-lagunya. Mereka yang cerdas secara akademis, dapat menjadi pahlawan negara ketika mendapat prestasi internasional. Mereka yang mempunyai kepedulian terhadap lingkungan dapat memberi penyuluhan pentingnya lingkungan kepada masyarakat banyak, dan masih banyak lagi. Melalui hal-hal kecil yang kita minati dan sukai kita dapat menyumbang sesautu untuk kemajuan bangsa. Dengan cara- cara kita sendiri, dengan hal-hal yang kita sukai selama itu positif, sesuai dengan nilai-nilai kepahlawanan dan dapat berguna untuk bangsa maka secara tidak langsung kita telah menyumbang sesuatu untuk kemajuan bangsa.
Selamat Hari Pahlawan ...
*Rizka Perdana Putra, anggota LPM Mercusuar

Saturday, October 18, 2014

On 4:30 AM by LPM Mercusuar UNAIR in    No comments
Mantan Jenderal perang sekaligus pemimpin besar Perancis Napoleon Bonaparte berkata “seorang pemimpin adalah penyedia harapan”, arti dari pernyataan sang jenderal tersebut adalah seorang manusia belum  dikatakan pemimpin sejati jika belum bisa menyediakan harapan seluruh rakyatnya. Harapan di sini mempunyai arti bahwa semua  mimpi-mimpi rakyat yang  akan direalisasikan di masa kepemimpinannya, seperti peningkatan kesejahteraan sosial, pertumbuhan ekonomi dengan distribusi pendapatan yang merata, Penegakan keadilan sesuai dengan Undang-Undang yang berlaku dan sebagainya. Jika kita lihat sejenak, impian tersebut seakan-akan masih bersifat abstrak dan masih belum jelas bagaimana langkah-langkah nyata yang akan dilakukan sang pemimpin  dalam merealisasikan harapan rakyat tersebut. Perlu langkah serta program kongkret untuk mewujudkan itu semua.

Indonesia merupakan negara besar dengan tingkat kepadatan penduduk yang sangat tinggi ditambah karakteristik masyarakatnya yang berbeda beda, dengan begitu ada celah untuk terjadinya  masalah di negri ini, entah itu masalah disintergrasi masyarakat, struktur ekonomi yang tidak adil, pemerintahan yang korup, penurunan kualitas pendidikan dan semacamnya. Jika kita telusuri lebih dalam, faktor wilayah dan kepadatan penduduk bukan merupakan satu-satunya penyebab dari masalah-masalah tersebut. Banyak variabel yang menyebabkan masalah tersebut terjadi, salah satu faktor yang paling berpengaruh adalah krisis kepemimpinan. Indonesia menganut  paham demokrasi yaitu kedaulatan tertinggi berada di tangan rakyat, implikasinya adalah untuk mendapatkan seorang pemipin terutama pemimpin negara dan pemimpin pemerintahan maka perlu pemungutan suara. Sudah selayaknya kepercayaan yang diberikan rakyat melalui kedaulatannya dimanfaatkan sebaik mungkin unuk mengemban amanahnya. Seorang pemimpin tidak hanya dituntut untuk mempunyai kercerdasan intelektual yang tinggi, lebih dari itu wajib mempunyai komitmen serta integritas dalam menjalankan fungsi dan tugasnya.

Satu hal penting yang harus dimiliki oleh setiap pemimpin bangsa yaitu visi yang jelas. Artinya setiap langkah-langkahnya dalam menjalankan program kerja dan menetapkan kebijakan harus mempunyai arah serta tujuan yang jelas, sehingga dengan begitu sang pemimpin tidak hanya berfikir dalam jangka pendek namun melangkah jauh ke depan. Pemimpin yang visioner merupakan salah satu pemimpin idaman rakyat, tidak ada ada rakyat yang mau dipimpin oleh orang yang tidak mempunyai tujuan yang jelas dalam hidupnya. Visi dari seorang pemimpin haruslah disertai dengan nilai-nilai yang luhur, seperti kejujuran, tanggung jawab dan sebagainya. Visi  hanya sekadar angan-angan tanpa adanya kemauan dan kehendak yang kuat untuk merealisasikan visi tersebut. Salah satu contoh seorang pemimpin mempunyai visi untuk meningkatkan kualitas pendidikan nasional, maka langkah kongkritnya dia harus mempunyai konsep serta perencanaan dalam menerapkan strategi untuk mewujudkan itu, misalnya membuat grind design  sitem pendidikan nasional, membuat konsep pengembangan siswa dengan teknologi, membuat rancangan UU pendidikan nasional yang berorientasi pada peningkatan mutu siswa, meningkatkan anggaran untuk pendidikan, membuat konsep tentang pengembangan kualitas tenaga pengajar di setiap sekolah tanah air dan sebagainya.

Setelah melakukan perencanaan yang matang maka langkah selanjutnya adalah bagaimana mengeksekusi rencana tersebut melalui berbagai macam kebijakan yang dikeluarkan, setelah itu sang pemimpin melakukan kontrol serta pengawasan terhadap pelaksana kebijakan, agar kebijakan tersebut berjalan sesuai dengan apa yang diharapkan.  Setelah itu sang Pemimpin mempunyai tanggung jawab untuk mengevaluasi segala bentuk kebijakannya tersebut. Apakah sudah terlaksana sesuai dengan yang kehendak rakyat yang telah direncanakan sebelumnya atau menyimpang dari itu semua. Dari sini bisa dlihat visi pemimpin dalam sebuah perencanaan untuk merancang kerangka kebijakan dan dalam aplikasinya, dibalik itu semua sang Pemimpin perlu rasional dan objektif dalam bertindak agar semua keputusan yang dibuat tidak hanya berdasarkan trial and error namun atas suatu kajian yang rasional. Pemimpin Visioner bukanlah pemimpin yang ambisius tanpa menghiraukan saran orang sekitarnya, namun dia sesosok pendengar yang tangkas dalam mengambil alternatif terbaik untuk kebijakannya.

Visi bagi seorang pemimpin tidak hanya sekedar menjadi tolak ukur, namun lebih dari itu menjadi bahan bakar bagi pemimpin untuk menggelorakan semangat kerjanya. Visi juga menjadi ruh yang menjiwai serta memberikan dorongan kuat dalam dirinya untuk terus berkarya dan melawan segala macam hambatan.

Dengan begitu pemimpin yang visioner merupakan salah satu indikator dari pemimpin yang ideal, rakyat bisa melihat kualitas mereka dari gagasan ,ide, konsep dan visi yang mereka sampaikan. Tahun politik 2014 ini diharapkan melahirkan pemimpin-pemimpin yang ideal bagi rakyatnya, sehingga dengan begitu berbagai macam masalah di bumi nusantara bisa di atasi atau diminimalisir sebaik mungkin.

Sebelum mengakhiri tulisan ini, saya mengutip pernyataan Harold S. Geeneen, CEO International Telephone and Telegraph, yang berkata “Pemimpin tidak banyak bicara, tapi kepemimpinannya ditunjukkan dalam perilaku dan tindakan nyata.”

Penulis : Muhammad Aufal Fresky (Mahasiswa Program Studi Ekonomi Pembangunan UNAIR/ Kabid P3A HmI Komisariat Ekonomi Airlangga/ Pengurus LPM Mercusuar/ Anggota LPPM Sektor/ Anggota Acses/  Pemimpin Redaksi Buletin Insan cita Hmi Komisariat Ekonomi Airlangga )